News

Junta Militer Myanmar Buka Pintu Dialog dengan ASEAN, Indonesia Ikut Ajukan Calon Utusan Khusus

Penguasa Militer Myanmar Min Aung Hlaing pada Minggu (1/8) mengatakan pemerintahannya siap untuk bekerja sama dengan utusan khusus yang ditunjuk ASEAN.


Junta Militer Myanmar Buka Pintu Dialog dengan ASEAN, Indonesia Ikut Ajukan Calon Utusan Khusus
Pemimpin Junta Militer Myanmar Min Aung Hlaing. (Foto: REUTERS) ()

AKURAT.CO, Penguasa Militer Myanmar Min Aung Hlaing pada Minggu (1/8) kembali menjanjikan Pemilu baru multipartai. Tak hanya itu, Ia mengatakan pemerintahannya siap untuk bekerja sama dengan utusan khusus yang ditunjuk oleh ASEAN.

Dilansir dari AFP, Min Aung Hlaing berjanji akan mencabut status keadaan darurat pada Agustus 2023. Tenggat waktu ini justru lebih lama daripada yang ditetapkan militer di awal ketika menggulingkan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari.

"Kami akan menyelesaikan status keadaan darurat pada Agustus 2023. Saya berjanji tak akan gagal menggelar Pemilu multipartai," ucapnya.

Dengan keputusan ini, Myanmar akan berada di dalam cengkeraman militer selama hampir 2,5 tahun, lebih lama daripada ketetapan awal 1 tahun yang diumumkan junta beberapa hari setelah kudeta.

Selain itu, Min Aung Hlaing juga menyatakan siap membuka pintu kerja sama dengan ASEAN.

"Myanmar siap bekerja sama dengan ASEAN, termasuk dialog dengan Utusan Khusus ASEAN di Myanmar," imbuhnya.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Min Aung Hlaing, Pemimpin Baru Myanmar yang Kudeta Aung San Suu Kyi

Sementara itu, para menteri luar negeri ASEAN akan bertemu pada Senin (2/8). Mereka mengatakan bertujuan untuk menyelesaikan penunjukan utusan khusus untuk mengakhiri kekerasan dan mempromosikan dialog antara junta dan lawan-lawannya.

Pencarian utusan khusus telah dimulai pada bulan April ketika para pemimpin ASEAN menghasilkan 'konsensus 5 poin' untuk mengatasi gejolak di Myanmar. Menurut Menteri Luar Negeri Kedua Brunei Erywan Yusof, keputusan akhir diharapkan dapat dibuat pada Senin (2/8).

"Tanpa utusan yang memimpin, sangat sulit untuk mengatasi situasi di Myanmar," ungkapnya.