Ekonomi

Jumlah Prevalensi Perokok Seluruh Kelompok Masyarakat Ternyata Tak Beda Jauh

BPS menyimpulkan bahwa prevalensi merokok dari setiap kelompok masyarakat baik kelompok bawah maupun atas tidak berbeda jauh.


Jumlah Prevalensi Perokok Seluruh Kelompok Masyarakat Ternyata Tak Beda Jauh
Direktur Statistik Kesejahteraan Rakyat BPS Ahmad Avenzora saat menjadi pembicara dalam Diskusi Publik Akurat Solusi di Hotel Bidakara, Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (7/11/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) menyimpulkan bahwa prevalensi merokok dari setiap kelompok masyarakat baik kelompok bawah maupun atas tidak berbeda jauh.

Direktur Statistik Kesejahteraan Rakyat Badan Pusat Statistik (BPS) Ahmad Avenzora mengatKan jika dibedakan berdasarkan kuitntil atau kelompok pengeluaran, dimana kuintil satu adalah kelompok paling bawah dan kuintil lima adalah kelompok paling atas.

Berdasarkan data tahun 2019, penduduk 5 tahun keatas untuk kuintil 1 kurang lebih 20 persen merokok. Sedangkan kuintil 5 sebesar 22-23 persen yang merokok.

“Ternyata betul rokok itu dikonsumsi setiap kelompok penduduk dimana tidak terlihat perbedaan yg signifikan setiap kuintilnya,” katanya dalam webinar “Reformulasi Kebijakan Cukai Rokok dan Masa Depan Insutri Hasil Tembakau” yang diselenggarakan Akurat.co, Minggu (7/11/2021).

Secara total tahun 2019 untuk usia 5 tahun keatas dari seluruh kuintil prevalensi merokoknya sebesar 23,44 persen dan 2020 ada 23,21 persen.

Selain itu, masih ada sebanyak 1,55 persen pada tahun 2019 dan 1,58 persen pada tahun 2020 anak usia 5-17 tahun yang merokok selama sebulan terakhir

Sementara, penduduk berumur 30 tahun ke atas menjadi kelompok yang paling banyak dalam merokok sebulan terakhir.

“Sekitar 3 dari 10 penduduk berumur 30 tahun keatas merokok selama sebulan terakhir (31,51 persen tahun 2019 dan 31,10 persen tahun 2020),” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Peneliti FEB Unpad Dr. Wawan Hermawan mengungkapkan analisis historis atas pola konsumsi rokok yang diproksi melalui prevalensi merokok usia 15+ di negara-negara anggota OECD dan 6 mitra strategis OECD.

Rata-rata prevalensi merokok usia 15+ di negara-negara OECD adalah sebesar 17,1 persen dan untuk OECD 6 persen adalah sebesar 17,4 persen.

Mayoritas negara dalam pengamatan menunjukkan trend penurunan dalam prevalensi merokok untuk usia 15+ termasuk Indonesia.

Dan Indonesia merupakan salah satu negara dengan rata-rata prevalensi merokok untuk usia 15+ yang lebih tinggi dari pada rata-rata OECD dan OECD 6+.

"Kenaikan harga cukai rokok di Indonesia sudah berhasil menurunkan prevalensi merokok, sehingga peningkatan rokok yang terlalu tinggi dikhawatirkan bisa menyebabkan perubahan konsumsi pada jenis rokok yang lebih murah (subtitusi/ rokok ilegal), alhasil bisa meningkatkan prevalensi merokok akibat mengkonsumsi rokok yang lebih murah," ungkapnya.[]