News

Jumlah Pengidap Gangguan Makan Naik 2 Kali Lipat selama Pandemi Covid-19, Ini Sebabnya

Penderita bulimia nervosa dan gangguan makan berlebihan kemungkinan kesulitan berada di rumah sepanjang hari di dekat banyak makanan.


Jumlah Pengidap Gangguan Makan Naik 2 Kali Lipat selama Pandemi Covid-19, Ini Sebabnya
Ilustrasi pengidap gangguan makan. (South China Morning Post)

AKURAT.CO, Berdasarkan penelitian, jumlah orang yang dirawat di rumah sakit karena gangguan makan, seperti anoreksia dan bulimia, naik 2 kali lipat pada Mei 2020, sekitar 2 bulan usai pandemi Covid-19 ditetapkan. Penelitian ini pun melacak berbagai alasannya, menurut penulisnya, Kelly Allison.

Dilansir dari United Press International, Allison merupakan direktur Pusat Gangguan Berat Badan dan Gangguan Makan sekaligus profesor psikiatri di Penn Medicine, Philadelphia.

"Masyarakat berada di rumah bersama keluarga mereka sepanjang hari. Jadi, ada kemungkinan perilaku makan tak teratur dan drastisnya penurunan berat badan lebih mudah dikenali selama masa itu," terang Allison.

Terlebih lagi, mereka yang rentan terhadap kecemasan atas belanja makanan dan yang punya gangguan terhadap pembatasan makanan mungkin telah menghindari total pasar swalayan. Akibatnya, asupan makanan mereka jadi semakin terbatas.

"Orang-orang yang cenderung makan berlebihan, seperti penderita bulimia nervosa dan gangguan makan berlebihan, kemungkinan besar kesulitan berada di rumah sepanjang hari di dekat banyak makanan, terutama selama masa yang penuh tekanan," tambahnya.

Faktor kurangnya rutinitas, isolasi, dan kecemasan yang disebabkan oleh pandemi, ditambah meningkatnya ketergantungan pada media sosial menjadi badai yang sempurna

"Orang-orang masih terhubung ke media sosial. Ada banyak obrolan tentang kenaikan berat badan selama pandemi, yang mungkin mempengaruhi pembatasan makanan yang tak sehat atau siklus makan-muntah yang dialami oleh penderita bulimia," sambungnya.

Dalam penelitian ini, para peneliti meninjau data klaim asuransi lebih dari 3,2 juta orang, rata-rata berusia 38 tahun, untuk mengetahui apakah gangguan makan atau gangguan perilaku lainnya meningkat dari 1 Januari 2018 hingga 31 Desember 2020. Sementara itu, Covid-19 dinyatakan sebagai darurat kesehatan masyarakat pada Februari 2020.

Selama masa tersebut, rawat inap untuk gangguan makan meningkat, seperti halnya jumlah hari yang dihabiskan orang di rumah sakit untuk perawatan selama tahun 2020, menurut temuan penelitian itu.

Jumlah orang yang mencari pengobatan rawat jalan untuk gangguan makan juga meningkat selama jangka waktu ini jika dibandingkan dengan mereka yang mencari bantuan untuk depresi, kecemasan, penggunaan alkohol atau penggunaan opioid.

Menurut Allison, hanya waktu yang akan menentukan apakah angka-angka ini akan berkurang karena keadaan kembali normal.

"Saya menduga ketika kehidupan menjadi normal, dan orang-orang melanjutkan jadwal yang lebih normal, mereka jadi punya lebih banyak struktur dan gangguan makan yang tidak terlalu parah akan membaik. Namun, setelah terbentuk, gangguan makan sedang hingga parah dapat mengambil alih kehidupan mereka sendiri dan berlanjut, meski telah melewati tekanan awal yang mungkin memicu mereka membaik atau teratasi," tuturnya.

Temuan yang diterbitkan baru-baru ini di jurnal JAMA Network Open, sesuai dengan bukti anekdotal yang menunjukkan peningkatan gangguan makan di papan obrolan untuk para profesional dan organisasi, seperti Asosiasi Gangguan Makan Nasional.

Pengamatan serupa diungkapkan Dana Greene, ahli diet berbasis di Boston yang berspesialisasi dalam gangguan makan.

"Gangguan makan sangat parah. Sumber dayanya lumayan tersumbat, jadi hampir tidak mungkin menemukan bantuan," kata Greene, yang tidak memiliki hubungan dengan penelitian baru tersebut.

Dia mengutip isolasi, kecemasan, dan depresi yang disebabkan oleh pandemi serta pembatasan Covid-19 sebagai faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan gangguan makan. Beberapa kelompok umur lebih terpukul oleh gangguan makan selama pandemi daripada yang lain.

"Kami mengamati meroketnya remaja yang datang dengan gangguan makan. Peningkatan ini terjadi baik dalam jumlah maupun tingkat keparahannya," ucap Dr. Katherine Ort

Dia ikut mengarahkan KiDS of NYU Integrated Behavioral Health Program sekaligus merupakan kepala layanan untuk psikiatri anak dan remaja di Rumah Sakit Anak Hassenfeld di NYU Langone Health di New York.

"Hilangnya kendali yang kita semua rasakan sebagai akibat dari pandemi kemungkinan mendorong sejumlah peningkatan," kata Ort, yang tidak terlibat dalam penelitian baru.

Membatasi makanan pun dapat membuat orang merasa memiliki kendali tertentu.

"Mengenali tanda-tanda gangguan makan sejak dini dan mendapatkan bantuan sebelum menjadi tidak terkendali sangat penting. Semakin lama seseorang berjuang, semakin sulit untuk mengobati gangguan makan," pungkas Ort. []