Olahraga

Juara Maraton London Diperiksa dalam Kasus Doping


Juara Maraton London Diperiksa dalam Kasus Doping
Atlet asal Kenya, Wilson Kipsang, dengan medali emas Maraton Tokyo di Tokyo, Jepang, 26 Februari 2017. (REUTERS/Toru Hanai)

AKURAT.CO, Pemilik dua gelar Maraton London asal Kenya, Wilson Kipsang, disanksi untuk sementara sehubungan dengan ketiadaan informasi keberadaannya (whereabouts) pada proses uji doping dan kerusakan sampel uji. Kipsang, 37 tahun, akan menjalani persidangan di bawah aturan Lembaga Anti-Doping Atletik Internasional.

Sebagaimana dikabarkan The Guardian, Kipsang dianggap tidak memenuhi aturan di mana sebagai atlet elite ia wajib memberitahukan keberadaannya dalam satu jam setiap hari berkaitan dengan sampel urin uji doping. Jika dalam 12 bulan seorang atlet tiga kali tidak melaporkan keberadaannya, maka hukuman jatuh secara otomatis.

Tuduhan ini cukup serius jika mempertimbangkan bahwa Kipsang adalah pesaing terdekat yang bisa mengalahkan rekor dunia maraton milik rekan senegaranya, Eliud Kipchoge. Dengan catatan dua jam, tiga menit, dan 12 detik, Kipsang menjadi orang tercepat keenam di maraton sepanjang sejarah.

Kabar ini juga kian mencoreng reputasi Kenya sebagai penghasil rutin juara atletik untuk nomor jarak jauh. Agensi Anti-Doping Internasional (WADA) menyebut bahwa dalam periode 2004-2018, setidaknya ada 138 atlet yang positif menggunakan obat penunjang performa.

Kenyataan ini bertentangan dengan pernyataan Kipsang pada 2015 ketika ia mengatakan bahwa ia yakin sekitar 99 persen atlet Kenya bisa dipercaya. Alih-alih, kini ia menjadi atlet terakhir dari jajaran elite Kenya yang berada di bawah penyelidikan.

Kasus lain yang membawa nama Kenya adalah hukuman terhadap peraih medali emas maraton olimpiade pertama negara tersebut, Jemima Sumgong. Pada 2017, peraih medali emas Olimpiade Rio De Janeiro 2016 itu dihukum karena menggunakan penunjang darah EPO.

Zat yang sama juga ditemukan dalam sampel mantan juara lari 1.500 meter olimpiade, Asbel Kiprop, dan juara tiga kali Maraton Boston, Rita Jeptoo. Kenya sendiri berencana memasukkan penggunaan doping sebagai kasus kriminal di mana pelakunya bisa dihukum penjara.[]