Ekonomi

Jokowi Targetkan India Buat Investasi

Jokowi Targetkan India Buat Investasi
Presiden Joko Widodo memimpin sidang paripurna di Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/12/2022). (Antara/Desca Lidya Natalia)

AKURAT.CO Presiden Joko Widodo memerintahkan jajarannya untuk melakukan pengendalian inflasi sekaligus mendorong investasi pada tahun 2023.

"Belanja yang berkaitan dengan inflasi. Saya minta kepada Mendagri untuk terus menyampaikan kepada kepala daerah dalam pengendalian inflasi," kata Presiden dalam Sidang Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/12/2022).

"Ini sudah dilakukan tapi ada beberapa daerah yang belum memberikan peringatan dan ini kelihatan sekali inflasi dari 3 bulan yang lalu 5,9 (persen). Kemarin turun ke 5,7 (persen), kemarin turun ke 5,4 (persen). Ini artinya daerah sudah melakukan, tetapi bisa masih diberikan peringatan lagi agar semua melakukan, dan saya lihat nanti akan turun dan turun lagi," paparnya.

baca juga:

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada November 2022 tercatat 5,42 persen (year on year/yoy) atau lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya yang mencapai 5,71 persen (yoy).

Selain itu, Presiden juga meminta adanya pencarian pasar baru sebagai target investasi.

"Karena kunci pertumbuhan ekonomi di 2023 selain tadi belanja yang menyangkut konsumsi, kemudian pengendalian inflasi, peningkatan investasi ini harus tidak bisa ditawar-tawar lagi karena ini sangat mempengaruhi growth (pertumbuhan) kita," jelasnya.

Artinya, Presiden menyebut hilirasasi industri harus terus secara konsisten dilakukan.

"Tadi pagi kita berbicara mengenai setelah nikel, tadi pagi kita telah berbicara mengenai bauksit dan segera kita putuskan kapan akan kita harap ekspor bahan mentah dari bauksit segera akan kita umumkan," ujarnya.

Alasannya, menurut Presiden, karena investasi juga menyangkut pembukaan lapangan kerja yang sangat diperlukan saat ini.

"Kemudian yang berkaitan dengan peningkatan ekspor. Kalau pasar-pasar besar kita seperti Tiongkok maupun Amerika, permintaannya turun, demand-nya agak menurun atau drop. Mestinya Kementerian Perdagangan bisa menggeser mengalihkan ke negara-negara lain yang kira-kira memiliki permintaan yang sama. Saya lihat punya potensi besar itu India," jelas Presiden.

Menurut Presiden, selama ini India belum dijadikan target investasi meski punya potensi besar.

"Ini yang tidak pernah kita rutin lakukan pendekatan ke sana," katanya.

Sementara, dalam sektor pariwisata, Presiden meminta agar dilakukan penguatan destinasi prioritas.

"Berkaitan dengan kunjungan wisatawan asing penting sekali, utamanya untuk destinasi prioritas di Labuan Bajo, di Mandalika, di Borobudur yang harus terus kita dorong," demikian Presiden.