Ekonomi

Jokowi: Perusahaan Startup Harus Jeli Lihat Peluang

Jokowi: Perusahaan Startup Harus Jeli Lihat Peluang
Presiden Joko Widodo memberikan kata sambutan dalam pembukaan Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF) tahun 2020 di Istana Negara, Kompleks Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2020). ASAFF Tahun 2020 yang diselenggarakan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) merupakan hasil kolaborasi antarnegara dan antarpebisnis di kawasan Asia untuk membangun kemandirian pertanian dan ketahanan pangan di Asia. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Presiden Joko Widodo menegaskan ekonomi digital tumbuh pesat dan tertinggi diAsia Tenggara, melompat delapan kali lipat dari Rp632 triliun di tahun 2020 menjadi Rp4.531 triliun nanti di 2030.

Hal itu dutarakan PresidenJokowi saat membuka BUMN Startup Day, di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, kemarin. Jokowi menyebut, Indonesia juga memiliki potensi lain yakni jumlah pengguna internet yang besar mencapai 77 dari total penduduk Indonesia dengan penggunaan rata-rata 8 jam 36 menit setiap harinya.

"Tak hanya itu, Indonesia juga merupakan negara dengan perusahaan rintisan tertinggi keenam di dunia setelah Amerika Serikat, India, Inggris, Kanada, dan Australia," ujar Jokowi.

baca juga:

Jokwi menyebut masih banyak bidang yang ke depan perlu diatasi dengan teknologi. Diantaranya bidang pangan, kesehatan, dan UMKM. Hal tersebut merupakan peluang pengembangan perusahaan rintisan di Indonesia.

"Dari kategori yang saya lihat, memang yang paling besar masih di fintech 23%, kemudian retail ada 14%. Padahal tadi kalau kita lihat, urusan masalah krisis pangan, urusan pangan ke depan ini akan menjadi persoalan besar yang harus dipecahkan oleh teknologi," tegasnya.

Jokowi juga menekankan, pembentukan perusahaan rintisan perlu melihat kebutuhan pasar yang ada. Selain itu, perusahaan rintisan juga perlu didukung oleh ekosistem yang berkesinambungan agar dapat berhasil masuk ke pasar dan peluang yang ada."Hati-hati 80% sampai 90% startup gagal saat merintis, karena sekali lagi, tidak melihat kebutuhan pasar yang ada," pungkasnya.[]

Lihat Sumber Artikel di Warta Ekonomi Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan Warta Ekonomi. Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari Warta Ekonomi.
Sumber: Warta Ekonomi