News

Jokowi: Kurikulum Harus Beri Bobot SKS Lebih Besar bagi Mahasiswa Belajar ke Praktisi dan Industri

Dunia pendidikan kini mengalami perubahan besar-besaran. Lembaga pendidikan konvensial kalah pamor dengan pendidikan berkonsep edutech


Jokowi: Kurikulum Harus Beri Bobot SKS Lebih Besar bagi Mahasiswa Belajar ke Praktisi dan Industri
Presiden Joko Widodo menanggapi kritik yang dilontarkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) kepada dirinya saat memberikan keterangan di Isatana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (29/6/2021). (AKURAT.CO/BPMI-Setpres/Lukas)

AKURAT.CO  Presiden Joko Widodo menyatakan dunia pendidikan kini mengalami perubahan besar-besaran. Lembaga pendidikan konvensional kalah pamor dengan pendidikan berkonsep edutech. Karenanya, tak ada pilihan lain bagi lembaga pendidikan selain beradaptasi dengan perubahan. 

"Dunia pendidikan telah terdisrupsi besar-besaran oleh edutech. Lembaga pendidikan tinggi mau tidak mau harus memperkuat posisinya sebagai edutech institution," katanya saat memberikan sambutan secara virtual pada acara Konferensi Forum Rektor Indonesia, Selasa (27/7/2021). 

Jokowi mengatakan, pelajaran secara digital harusnya bukan hanya dimanfaatkan untuk pembelajaran antara dosen dan mahasiswa di internal kampus. Tetapi kampus justru perlu didorong untuk memfasilitasi mahasiswa belajar langsung kepada praktisi dan pelaku industri. 

"Pembelajaran dari para praktisi termasuk pelaku industri sangat penting untuk difasilitasi. Kurikulum harus memberi bobot SKS yang jauh lebih besar bagi mahasiswa untuk belajar dari praktisi dan industri. Eksposure mahasiswa dan dosen kepada industri," katanya. 

Jokowi juga menyatakan bahwa yang terpenting dilakukan kampus saat ini adalah memfasilitasi mahasiswa. Mereka harus bisa belajar kepada siapapun, dimanapun dan tentang apapun. Apalagi, katanya, sudah banyak pengetahuan dan keterampilan yang sudah tidak dibutuhkan di era disrupsi ini. 

"Mahasiswa harus diupdate dengan perkembangan terkini dan perkembangan kedepan. Banyak pengetahuan dan keterampilan yang tidak relevan lagi yang menjadi usang karena disrupsi. Tetapi banyak pengetahuan baru yang bermunculan yang dikembangkan oleh lembaga penelitian dan ptaktisi yang barangkali belum sempat dibukukan dan diliteraturkan," katanya. 

Tak hanya itu, Jokowi juga mengatakan banyak sekali jenis pekerjaan yang hilang karena disrupsi. "Tetapi banyak juga pekerjaan baru yang bermunculan di masa kini dan masa yang akan datang karena disrupsi," tukas Jokowi.[]