Ekonomi

Jokowi Effect Buat PDIP 'Kuat' Meski Diserang Soal Bansos


Jokowi Effect Buat PDIP 'Kuat' Meski Diserang Soal Bansos
Presiden RI Joko Widodo dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri saat berjalan menghadiri acara Rakornas Tiga Pilar PDI Perjuangan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Sabtu (16/12). Rakornas tiga Pilar PDIP Bidang Ekonomi Kerakyatan ini mengambil tema 'Berdikari untuk Indonesia Raya.' Ratusan UMKM dengan produk kreatifnya ditampilkan dalam acara ini. Selain itu, sejumlah workshop digelar untuk membekali para kader partai dalam memajukan ekonomi kerakyatan di daerah masing (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) semakin kokoh sebagai partai yang paling digemari rakyat meski akhir-akhir ini serangan dengan pemberitaan bernada negatif dilayangkan secara masif.

Hal itu terbukti dari hasil jajak pendapat 4 lembaga survei di awal tahun 2021 yang menunjukkan kenaikan elektabilitas partai yang berlambang banteng tersebut.

"Membaca hasil survei dan melihat elektabilitas PDIP cenderung naik, membuat saya terkejut. Pasalnya, serangan ke partai ini datang bertubi-tubi akhir-akhir ini. Sang banteng dijadikan target," ujar Pengamat Politik dan Pegiat Media Sosial, Kajitow Elkayeni, Kamis (25/2/2021).

"Di media sosial, tagar yang menyudutkan partai ini terus diorkestrasi. Kebencian terhadap Jokowi ditembakkan ke partai pendukung utamanya. Mungkin mereka berpikir, jika partai ini tumbang, Jokowi juga akan selesai. Pamornya meredup," tambahnya.

Menurut pengamatannya dari sisi intensitas serangan yang bermain di kubangan ini bukan main-main. Dia melihat salah satu media besar juga ikut turun gunung. Framing yang biasanya disasarkan ke Jokowi, kali ini merembet ke partai moncong putih.

"Mereka (Media Besar tersebut) mengorek-orek sesuatu yang tidak ada. Mengait-ngaitkan satu petunjuk ke petunjuk lainnya. Mirip orang pasang togel. Semua firasat, mimpi dan celoteh orang yang dianggap pintar menjadi buku panduan. Tidak ada akal sehat di sana. Apalagi etika jurnalistik," ungkapnya.

"Hanya waton sulaya, waton jeplak (asal nyinyir, asal mangap)," tambah Kajitow.

Dia pun mengungkapkan, serangan Media dalam upaya membusukkan PDIP dengan menyeret para pentolan seperti Herman Hery dan istilah ‘Madam' dalam kasus bansos adalah upaya sistematis untuk menghancurkan kredibilitas PDIP.

"Namun yang mengejutkan, upaya untuk meredupkan pamor PDIP melalui kasus korupsi bansos, ternyata sia-sia. PDIP menjadi satu-satunya partai yang justru mengalami kenaikan elektabilitasnya," jelasnya.