News

Joe Biden Janji Bakal Bela Taiwan jika Ada Invasi China

Joe Biden Janji Bakal Bela Taiwan jika Ada Invasi China
Kapal Perang AS yang dilengkapi rudal penjelajah melintasi Selat Taiwan pada 28 Agustus 2022. (Channel News Asia)

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menyatakan pasukannya akan membela Taiwan jika China meluncurkan invasi. Pernyataan tersebut menjadi yang paling eksplisit sejauh ini dan dapat menyulut amarah pemerintah Xi Jinping.

Dilansir dari Reuters, janji itu terlontar dalam wawancara CBS '60 Minutes' saat Biden ditanya apakah pasukan AS akan mempertahankan pulau berpemerintahan sendiri yang diklaim oleh China tersebut.

"Ya, jika kenyataannya ada serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya," jawab Biden dalam acara yang disiarkan pada Minggu (18/9) itu.

baca juga:

Orang nomor satu di Negeri Paman Sam itu lantas diminta mengklarifikasi apakah maksudnya pasukan AS, baik pria maupun wanita AS, akan dikerahkan untuk membela Taiwan jika China menginvasinya, berbeda dari sikap AS terhadap Ukraina.

"Ya," tandas Biden.

Jawaban Biden telah melangkahi kebijakan lama AS yang dinyatakannya di taiwan. Namun, pernyataan tersebut lebih jelas daripada yang sebelumnya soal komitmen pasukan AS untuk mempertahankan Taiwan.

Di sisi lain, dalam acara itu pula, Biden menegaskan kembali bahwa AS tak mendukung kemerdekaan Taiwan dan tetap berkomitmen pada kebijakan 'Satu China'. Artinya, yang diakui Washington secara resmi adalah Beijing, alih-alih Taipei.

AS sendiri sudah lama terjebak pada kebijakan strategis 'ambigu' dan tak menjelaskan apakah akan angkat senjata jika Taiwan diserang.

Menurut juru bicara Gedung Putih, kebijakan AS terhadap Taiwan tak berubah.

"Presiden telah mengatakannya sebelumnya, termasuk di Tokyo awal tahun ini. Beliau juga menjelaskan bahwa kebijakan kami soal Taiwan tak berubah. Itu tetap benar," komentarnya.

Jawaban Biden dalam acara itu ditengarai akan membuat marah Beijing. Presiden China Xi Jinping sendiri telah berjanji untuk membawa Taiwan yang berpemerintahan demokratis ke dalam kendali Beijing. Ia juga tak mengesampingkan penggunaan kekuatan. Saat bertelepon dengan Biden pada bulan Juli pun Xi Jinping memperingatkan agar AS tak 'bermain api' di Taiwan.

"Mereka yang bermain api akan binasa karenanya," ancamnya.

Sementara itu, sejumlah ahli menyebut Biden salah langkah dengan melontarkan pernyataan seperti itu.

Menurut Bonnie Glasir, pakar Asia di German Marshall Fund AS, jika Biden berjanji semacam itu, ia perlu memastikan mampu menyokongnya.

"Jika Presiden Biden berencana membela Taiwan, beliau harus memastikan militer AS punya kemampuan untuk melakukannya. Dukungan retoris tanpa kemampuan nyata mustahil untuk memperkuat pencegahan," tuturnya.

Di masa lalu, setiap langkah untuk 'kejelasan strategis' bagi Taiwan selalu ditolak oleh Kurt Campbell, Tsar kebijakan Asia untuk Biden. Menurutnya, ada kerugian signifikan jika menggunakan pendekatan semacam itu.[]