News

Joe Biden Dituding Lecehkan Mantan Asisten, Tim Sukses Membantahnya


Joe Biden Dituding Lecehkan Mantan Asisten, Tim Sukses Membantahnya
Kolase foto Joe Biden (kiri) dan Tara Reade (kanan) (REUTERS dan Twitter/readealexandra)

AKURAT.CO, Mantan asisten Joe Biden menuduh calon presiden (capres) Amerika Serikat (AS) ini pernah melakukan pelecehan seksual padanya hampir 30 tahun lalu saat Biden masih menjadi senator. Namun, tim sukses penantang Donald Trump itu membantahnya.

Dilansir dari Reuters, Tara Reade pernah bekerja sebentar sebagai asisten staf di kantor Senat Biden dari Desember 1992 hingga Agustus 1993. Ia mengatakan kepada New York Times, Washington Post, dan  media lainnya bahwa mantan wakil presiden tersebut pernah memojokkannya ke dinding lalu menggapai bawah kemeja dan roknya pada tahun 1993.

Reade pun mengajukan laporan polisi di Washington DC pekan lalu, meski undang-undang pembatasan untuk gugatan itu telah kedaluwarsa. Departemen kepolisian kota pun merilis dokumen itu tanpa menyebutkan nama Reade. Menurut keterangan mereka, 'Subjek 1' melaporkan pada 9 April bahwa 'Subjek 2' melakukan pelecehan seksual terhadap 'Subjek 1' pada 1993. Reade pun mengatakan pada NBC News kalau ia adalah 'Subjek 1' dan Biden adalah 'Subjek 2'.

Sejumlah media yang telah memublikasikan pengakuan wanita 56 tahun itu mewawancarai seorang kawannya. Menurut pengakuannya, Reade telah menceritakan pelecehan seksual yang dialaminya pada saat kejadian. Kawan lainnya mengungkapkan kalau Reade baru menceritakan padanya tahun 2008. Saudara Reade juga membenarkan kisah tersebut.

Reade merupakan salah satu dari 8 wanita yang tahun lalu mengungkapkan Biden memeluk, mencium, atau menyentuh mereka dengan cara yang membuat mereka tidak nyaman. Namun, tidak ada yang berani terang-terangan menuduh Biden melakukan pelecehan seksual. Reade baru secara terbuka menuduhnya di podcast pada Maret lalu.

Sementara itu, seorang juru bicara kampanye Biden membantah tuduhan tersebut pada Selasa (14/4).

"Ia sangat percaya bahwa perempuan punya hak untuk didengar dan dihormati. Tudingan semacam itu juga harus ditinjau dengan teliti oleh pers yang independen. Yang jelas klaim ini tidak benar. Ini sama sekali tidak terjadi," bantah Kate Bedingfield.[]