News

Joe Biden Bakal Kerahkan 450 Tentara AS ke Somalia, Perang Apa Lagi Ini?

Sebelumnya, ada sekitar 700 tentara AS di Somalia, tetapi kemudian ditarik oleh mantan Presiden Donald Trump.


Joe Biden Bakal Kerahkan 450 Tentara AS ke Somalia, Perang Apa Lagi Ini?
Pengerahan 450 tentara AS ke Somalia bertujuan agar perang yang lebih efektif melawan al-Shabab. (US Air Force via REUTERS)

AKURAT.CO, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah mengizinkan pengerahan pasukan AS ke Somalia. Ini membalikkan keputusan mantan Presiden Donald Trump tahun lalu yang menarik hampir seluruh pasukan yang beroperasi di sana.

Dilansir dari Al Jazeera, Gedung Putih membenarkan keputusan Biden pada Senin (16/5). Keputusan ini diambil setelah ada permintaan dari Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin.

"Presiden menyetujui permintaan menhan untuk membangun kembali kehadiran militer AS yang gigih di Somalia. Ini memungkinkan perang yang lebih efektif melawan al-Shabab. Mereka telah meningkatkan kekuatannya, sehingga dinilai menimbulkan ancaman yang meningkat," ungkap Sekretaris Pers Gedung Putih Karine Jean-Pierre.

baca juga:

Ini adalah reposisi pasukan yang telah melakukan perjalanan masuk dan keluar Somalia secara episodik sejak pemerintahan sebelumnya membuat keputusan untuk mundur, menurut Jean-Pierre.

Sebelum ditarik Trump, AS punya sekitar 700 tentara di Somalia yang fokus membantu pasukan lokal mengalahkan al-Shabab. Militer AS juga terkadang melancarkan serangan di negara itu dan punya pasukan di negara-negara terdekat.

Menurut seorang pejabat yang dikutip New York Times, keputusan AS disetujui pada awal Mei. Jumlah pasukan yang dikerahkan tak lebih dari 450 tentara. Ini senada dengan keterangan seorang pejabat kepada Reuters yang menyebut jumlahnya tak lebih dari 500 tentara.

Sementara itu, Pentagon menjamin pasukan tak akan terlibat dalam pertempuran.

"Pasukan kami sekarang tak akan terlibat langsung dalam operasi tempur. Tujuannya adalah untuk memungkinkan pertempuran yang lebih efektif melawan al-Shabab oleh pasukan lokal," terang Sekretaris Pers Pentagon John Kirby.

Al-Shabab, kelompok bersenjata yang terkait dengan al-Qaeda di Somalia, dinilai semakin mengkhawatirkan. Berusaha menggulingkan pemerintah dan mendirikan pemerintahannya sendiri, kelompok itu telah mendapat keuntungan teritorial melawan pemerintah federal Somalia dalam beberapa bulan terakhir. Ini membalikkan keuntungan dari pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika yang pernah mendorong para militan bersenjata ke daerah terpencil di negara tersebut.

Al-Shabab kerap melakukan pengeboman di Mogadishu dan di tempat lainnya sebagai bagian dari perangnya melawan pemerintah pusat negara Tanduk Afrika tersebut.

Somalia telah mengalami konflik dan pertempuran klan tanpa pemerintah pusat yang kuat sejak jatuhnya diktator Mohamed Siad Barre pada 1991. Pemerintah hanya punya sedikit kendali di luar ibu kota, sementara kontingen Uni Afrika menjaga 'Zona Hijau' ala Irak. []