News

Jepang Kembali Guyur RI dengan Bantuan 300 Mesin Pendingin Vaksin Gratis

Pemerintah Jepang kembali mengguyur Indonesia dengan bantuan prasarana penunjang penanganan Covid-19.


Jepang Kembali Guyur RI dengan Bantuan 300 Mesin Pendingin Vaksin Gratis
Delegasi menyimak sambutan dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat pertemuan pertama Health Ministerial Meeting (HMM) G20 Indonesia di Sleman, DI Yogyakarta, Senin (20/6/2022). (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)

AKURAT.CO Pemerintah Jepang kembali mengguyur Indonesia dengan bantuan prasarana penunjang penanganan Covid-19.

Hari ini, Indonesia dipastikan telah menerima 300 mesin pendingin dan 50 ruang pendingin vaksin serta perangkat pemantauan suhu jarak jauh. Diplomasi ini berupa peralatan medis penunjang penanganan Covid-19 di dalam negeri. 

Budi memastikan, bantuan dari pemerintah Jepang itu bertujuan untuk meningkatkan cakupan vaksinasi dalam negeri. 

baca juga:

Bantuan ini diberikan secara gratis melalui UNICEF dan diterima secara simbolis oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta International Container Terminal (JICT) pada Minggu (26/6/2022).

"Terima kasih kepada Jepang dan UNICEF yang telah mendukung kami. Selain cold chain equipment, kami juga mendapat dukungan vaksin dari Jepang. Sudah hampir 7 juta vaksin telah disumbangkan Jepang ke Indonesia dan itu membantu percepatan program vaksinasi kami," kata Budi.

Budi Gunadi menyebutkan, belajar dari pandemi Covid-19, ketersediaan rantai dingin vaksin sangat penting untuk menjamin distribusi vaksin yang merata dan berkualitas sampai ke sasaran. Untuk itu, dengan adanya bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan cakupan vaksinasi di seluruh Indonesia serta memperkuat sistem distribusi vaksin sampai pelosok tanah air.

"Selama masa perang dengan virus ini, kita dapat membangun sistem yang sangat kuat, termasuk seluruh sistem logistik dengan minus 82 celcius, karenanya kami bisa melayani dan mendistribusikan vaksin ke 17 ribu pulau dan 270 juta penduduk Indonesia," lanjut Menkes.

Namun demikian, dia mengungkapkan ketersediaan cold chain equipment di Indonesia dihadapkan pada penggunaan serta perawatan mesin yang kurang baik dan benar. Akibatnya, banyak ditemukan mesin-mesin yang cepat rusak dengan masa penggunaan sangat singkat, berkisar 3 sampai 4 tahun sejak tanggal pengadaan.

"Kami akan memperbaiki cara dan kami akan mengalokasikan anggaran yang cukup untuk memastikan bahwa kami memiliki kemampuan perawatan atas mesin, tetapi saya pikir kami perlu untuk mengubah perilaku kami dan menjaga mesin daripada merawat yang lama," ungkap Menkes. []