News

Jepang Izinkan Pembuangan Air Terkontaminasi Radioaktif dari PLTN Fukushima ke Laut

Jepang telah menyetujui rencana untuk membuang lebih dari 1 juta ton air terkontaminasi dari pembangkit nuklir Fukushima yang rusak ke laut


Jepang Izinkan Pembuangan Air Terkontaminasi Radioaktif dari PLTN Fukushima ke Laut
Proses pengolahan dan pengenceran air yang terkontaminasi radioaktif diperkirakan memakan waktu 2 tahun sebelum dibuang ke laut (BBC)

AKURAT.CO, Jepang telah menyetujui rencana untuk membuang lebih dari 1 juta ton air terkontaminasi dari pembangkit nuklir Fukushima yang rusak ke laut. Air itu akan diolah dan diencerkan supaya tingkat radiasinya di bawah standar untuk air minum.

Dilansir dari BBC, Jepang mengklaim pembuangan air limbah tersebut aman karena diproses untuk menghilangkan hampir seluruh elemen radioaktif dan akan sangat encer. Rencana ini juga didukung Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang mengatakan pembuangan tersebut serupa dengan pembuangan air limbah di pabrik lainnya di seluruh dunia.

"Pembuangan ke laut juga dilakukan di tempat lainnya. Ini bukan sesuatu yang baru. Tidak ada skandal di sini," kata Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi.

Persetujuan ini didapat setelah perdebatan bertahun-tahun. Bahkan, proses pembuangan itu membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menyelesaikannya. Tokyo mengatakan proyek pembuangan air yang digunakan untuk mendinginkan bahan bakar nuklir ini akan dimulai dalam waktu sekitar 2 tahun.

Saat ini, air radioaktif tersebut diolah dalam proses penyaringan kompleks untuk menghilangkan sebagian besar unsur radioaktif. Namun, beberapa masih ada, termasuk tritium. Kemudian, air tersebut disimpan dalam tangki besar. Namun, operator pabrik Tokyo Electric Power Co (TepCo) kehabisan ruang, sehingga air itu diharapkan bisa ditampung dalam tangki-tangki tersebut pada 2022.

Banyaknya air radioaktif ini sekitar 1,3 juta ton. Jumlah itu sebanding dengan sekitar 500 kolam renang ukuran olimpiade.

BBC

Namun, rencana pembuangan ini ditentang oleh kelompok lingkungan, seperti Greenpeace. LSM itu menyebut pemerintah Jepang lagi-lagi mengecewakan rakyat Fukushima. Penolakan juga datang dari penduduk setempat yang bergerak di industri perikanan. Mereka khawatir konsumen akan menolak untuk membeli produk dari daerah itu.

Keputusan ini juga mengundang kecaman dari negara tetangga Jepang, yaitu Korea Selatan dan China. Menjelang persetujuan rencana itu, menteri luar negeri Korea Selatan pada Senin (12/4) mengungkapkan penyesalan mendalam. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian juga mendesak Jepang agar bertindak secara bertanggung jawab.

"Untuk melindungi kepentingan publik internasional serta kesehatan dan keselamatan rakyat China, China menyatakan keprihatinan mendalam kepada pihak Jepang melalui kanal diplomatik," ungkap Zhao.

Anugrah Harist Rachmadi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu