News

Jenderal Iran Akui Lebih dari 300 Orang Tewas dalam Protes Menyusul Kematian Mahsa Amini

Jenderal Iran Akui Lebih dari 300 Orang Tewas dalam Protes Menyusul Kematian Mahsa Amini
Nasibe Samsaei, wanita Iran yang tinggal di Turki, memotong rambutnya selama protes menyusul kematian Mahsa Amini di luar konsulat Iran di Istanbul (AFP)

AKURAT.CO Seorang jenderal Iran telah mengakui bahwa lebih dari 300 orang tewas dalam kerusuhan terkait protes nasional, yang meletus menyusul kematian Mahsa Amini pada 16 September.

Pernyataan jenderal itu, yang disampaikan pada Selasa (29/11) menjadi laporan resmi pertama dari pemerintah Iran tentang para korban yang meregang nyawa selama protes yang berlangsung selama dua bulan. 

"Semua orang di negara ini telah terpengaruh oleh kematian wanita ini. Saya tidak memiliki angka terbaru, tetapi saya pikir kami mungkin memiliki lebih dari 300 'martir' dan orang yang terbunuh di negara ini, termasuk anak-anak, sejak kejadian ini," kata Jenderal Amirali Hajjizadeh, komandan divisi kedirgantaraan Pengawal Revolusi paramiliter Iran, sebagaimana dilaporkan AFP.

baca juga:

Hajizadeh mengatakan keterangan itu dalam sebuah video yang diterbitkan oleh kantor berita Mehr. Dia menyebut martir, yang tampaknya merujuk pada pasukan keamanan. Jenderal Iran ini telah menyarankan bahwa banyak dari mereka yang terbunuh adalah warga sipil Iran yang tidak terlibat dalam protes.

Hajizadeh, bagaimanapun, tidak memberikan angka pasti atau mengatakan dari mana perkiraannya berasal.

Namun, angka yang diberikan jauh lebih rendah dibanding jumlah korban yang dilaporkan oleh Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran, sebuah kelompok yang berbasis di AS yang telah melacak dengan cermat protes tersebut.

Menurut kelompok aktivis itu, sebanyak 451 pengunjuk rasa dan 60 pasukan keamanan telah tewas sejak awal kerusuhan, dengan lebih dari 18ribu orang ditahan.     

Gelombang protes dipicu oleh kematian Amini, seorang gadis Iran Kurdi berusia 22 tahun, yang ditahan karena diduga melanggar aturan berpakaian ketat Republik Islam. Protes dengan cepat meningkat menjadi seruan untuk menggulingkan teokrasi Iran, menimbulkan salah satu tantangan paling serius bagi para ulama yang berkuasa sejak revolusi 1979 yang membawa mereka ke tampuk kekuasaan.

Pihak berwenang telah sangat membatasi liputan media tentang protes tersebut. Media yang terkait dengan negara belum melaporkan jumlah korban secara keseluruhan dan sebagian besar hanya berfokus pada serangan terhadap pasukan keamanan, yang menurut para pejabat dilakukan oleh kelompok militan dan separatis bayangan.

Diwartakan NPR, bahwa Hajizadeh telah menegaskan kembali klaim Teheran bahwa protes dipicu oleh musuh Iran. Yang dituduh termasuk negara-negara Barat dan Arab Saudi, tanpa memberikan bukti. Para pengunjuk rasa mengatakan mereka muak setelah puluhan tahun mengalami represi sosial dan politik. Mereka telah menyangkal memiliki agenda asing.

Protes telah menyebar ke seluruh negeri dan mendapat dukungan dari para seniman, atlet, dan tokoh masyarakat lainnya. Isu ini bahkan membayangi Piala Dunia, dengan beberapa orang secara aktif menyuarakan dukungannya terhadap protes, hingga tim nasional Iran menolak menyanyikan lagu kebangsaan. []