News

Jenazah COVID-19 Membludak di Malaysia, Mayat Harus Antre untuk Ditangani

Pada gelombang saat ini, kematian akibat COVID-19 turut menimpa anak muda, bahkan yang tak punya penyakit penyerta.


Jenazah COVID-19 Membludak di Malaysia, Mayat Harus Antre untuk Ditangani
Petugas ber-APD mengeluarkan peti mati yang berisi jenazah korban COVID-19 di sebuah pemakaman di Shah Alam pada 11 Februari 2021. (Foto: Malay Mail)

AKURAT.CO, Tingginya angka kematian akibat COVID-19 di Malaysia belakangan ini membuat Institut Nasional Kedokteran Forensik (IPFN) kewalahan mengurus jenazah. Pasalnya, berbeda dengan penanganan jenazah pasien non-COVID-19, korban COVID-19 perlu diurus dengan sangat hati-hati oleh para petugas garda depan ini dan dipercepat untuk penguburan atau kremasi.

Dilansir dari Bernama via Malay Mail, ahli patologi forensik Rumah Sakit Kuala Lumpur (HKL) Salmah Arshad mengaku ruangan di kamar mayat IPFN tak cukup lagi. Akibatnya, para korban kini ditempatkan di kontainer yang disulap menjadi kamar mayat darurat yang bisa menampung 12-20 jenazah pasien COVID-19.

Menurut keterangannya, kamar mayat IPFN dapat menyimpan hingga 36 mayat, tetapi ada ruang tambahan lagi, termasuk di Rumah Sakit Tunku Azizah (hingga 10 mayat), Rumah Sakit Angkatan Bersenjata Tuanku Mizan (4 mayat), dan Institut Kanker Nasional (2 mayat). Selain itu, ada 52 peti mati dan kontainer cadangan untuk menyimpan mayat.

Untuk jenazah non-Muslim, kerabat dapat memilih apakah jenazah akan dikubur atau dikremasi.

"Untuk jenazah yang akan dikremasi, tergantung krematoriumnya. Di Lembah Klang hanya ada 1 lokasi yang dikelola oleh Balai Kota Kuala Lumpur (DBKL). DBKL juga menyediakan layanan kremasi non-COVID-19, jadi kami harus menunggu giliran," terangnya.

Setiap proses kremasi memakan waktu 2-3 jam, dibandingkan dengan kasus non-COVID-19 yang hanya butuh waktu 45 menit-1 jam.

Menurut dokter spesialis yang telah berkecimpung di bidang forensik selama 13 tahun ini, peningkatan jumlah kasus datang dalam kondisi sudah meninggal (BID) akibat wabah tersebut semakin mengkhawatirkan. Ia mengatakan selama gelombang pertama pandemi, angka kematian COVID-19 di luar bangsal hanya 1-2 kasus. Namun, sekarang, ada 3-4 kasus semacam itu setiap hari.

"Memang ada perubahan. Di masa lalu, kami memperkirakan kematian terjadi pada pasien lansia dan yang berpenyakit seperti jantung, ginjal, dan obesitas. Itulah faktor yang berkontribusi terhadap risiko kematian tahun lalu. Namun, kami tidak bisa memprediksi gelombang sekarang karena sama-sama menimpa tua dan muda," sambungnya.

Ia mengaku kasus BID termuda yang diterimanya berusia 20an tahun dan tidak punya penyakit bawaan.