News

Jelaskan Maksud Dukung Amandemen Konstitusi, Sekjen PSI: Pak SBY Juga Bisa Berlaga Lagi

Dea membantah PSI tiba-tiba saja mendukung amandemen konstitusi.


Jelaskan Maksud Dukung Amandemen Konstitusi, Sekjen PSI: Pak SBY Juga Bisa Berlaga Lagi
Sekjen PSI Dea Tunggaesti (Screenshot youtube Akbar Faizal)

AKURAT.CO, Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dea Tunggaesti akhirnya menjelaskan maksud pernyataannya terkait dukungannya mengamendemen konstitusi terkait pembatasan masa jabatan presiden.

Menurut dia, pernyataannya itu merupakan reaksi atas menguatnya dukungan elite partai politik (parpol) untuk memuluskan Jokowi tiga periode tanpa melalui mekanisme Pemilu. 

"Itu suatu reaksi sebetulnya kalimat yang saya keluarkan dimulai dari pada saat itu ada tiga bahkan lebih petinggi partai lainnya yang mengatakan masa jabatan presiden dapat diperpanjang tanpa Pemilu karena sedang masa Pandemi. Nah itu luar biasa sekali, dahsyat sekali pemberitaan pada waktu itu. Disitulah kita mengingatkan Pak Presiden mengambil sikap, menegaskan hal tersebut inkonstitusional. Tidak bisa. Kita harus melalui Pemilu," katanya saat menjadi bintang tamu tunggal dalam podcast Akbar Faizal Uncencored dikutip, Jumat (6/5/2022). 

baca juga:

Dia mengungkapkan, pada saat wacana perpanjangan masa jabatan itu ramai dibicarakan, beberapa survei menunjukan kepuasan terhadap kinerja Presiden Jokowi sangat tinggi. Mencapai 73 persen. Nah, bila rakyat Indonesia masih menginginkan Presiden Jokowi memimpin Indonesia, maka konstitusi terkait pembatasan masa jabatan presiden harus diubah terlebih dahulu. 

"Kalaupun memang Pak Presiden masih diinginkan, rakyat masih menginginkan, maka yang pertama harus dilakukan para petinggi partai tadi harus berhasil melobi teman-temannya mengubah dulu konstitusinya. Itu yang saya sampaikan. Kalau konstitusi bisa diubah ya silakan kalau memang apabila nanti ditetapkan ada perpanjangan atau bisa dipilih tiga kali," katanya. 

Namun, dukungannya mengubah konstitusi itu, kata dia lagi, tidak hanya berlaku untuk memuluskan Presiden Jokowi melanggeng ke istana negara untuk jabatan tiga periode, tetapi juga berlaku untuk Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Tapi itu tidak berlaku hanya untuk pak Jokowi, tentunya pak SBY masih bisa berlaga lagi. Jadi bukan kami setuju tiga periode, kami tahu persis betapa perjuangan teman-teman ketika memperjuangkan masa jabatan presiden yang seumur hidup itu tadinya menjadi dua periode itu adalah perjuangan yang sangat sangat berat. Jadi kami pasti ingat terhadap perjuangan itu," katanya. 

Dia membantah PSI tiba-tiba saja mendukung amandemen konstitusi itu. Sikapnya hanyalah reaksi atas dorongan elite partai yang menggalang dukungan memperpanjang masa jabatan presiden tanpa melalui mekanisme Pemilu. 

"Kami tidak bisa (mengubah konstitusi). Yang bisa mengubah konstitusi teman-teman di DPR yang saat itu bilang diperpanjang aja tambah 2 tahun 3 tahun nggak usah pemilu. Itu kan luar biasa melanggar konstitusinya," katanya.[]