Rahmah

Jelaskan Konsep Darul Mitsaq, Mahfud MD: Indonesia Bukan Negara Sekuler dan Bukan Negara Agama

Mahfud MD menyampaikan, bahwa Indonesia bukan negara Islam, melainkan Indonesia adalah negara yang dibangun dengan nilai-nilai Islami.


Jelaskan Konsep Darul Mitsaq, Mahfud MD: Indonesia Bukan Negara Sekuler dan Bukan Negara Agama
Menkopolhukam Mahfud MD saat konferensi pers usai acara Refleksi dan Proyeksi Pelaksanaan Pilkada Serentak Tahun 2020 di Hotel Melia Purosani, Kota Yogyakarta, Senin (14/12/2020) (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO  Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyampaikan, bahwa Indonesia bukan negara Islam, melainkan Indonesia adalah negara yang dibangun dengan nilai-nilai Islami. Menurutnya negara Islami merupakan negara yang memberlakukan nilai-nilai dasar Islam di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pria kelahiran Jawa Timur itu juga menyebut, di dalam nilai-nilai Islami banyak mengandung makna universal. Misalnya soal persamaan derajat, hak asasi manusia (HAM), pemerintahan yang adil, menjaga maqasid syariah.

"Melindungi kebebasan beragama, atau agama melindungi jiwa, harta, menjaga keturunan dan otak atau hifzul akli," ujarnya dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku "Islam Agama Kedamaian dan Islam dan Etika Kehidupan Berbangsa" karya Prof Dr Masykuri Abdillah melalui virtual, Kamis (25/11/2021).

Mahfud lalu menyebut, sebelum Indonesia merdeka, terjadi pertentangan antara kelompok yang ingin mendirikan negara Indonesia menjadi negara sekuler yang diwakili oleh Bung Karno tahun 1938. Di mana pada saat itu, Bung Karno secara jelas menyatakan jika Indonesia ingin menjadi negara merdeka, maka harus menjadi negara sekuler. Karena menurut Bung Karno, jika negara disatukan dengan agama akan menjadi mundur.

Berbeda dengan pendapat Mohammad Natsir yang pada saat itu menyatakan bahwa jika Indonesia menjadi negara demokrasi yang mayoritas Islam, harus menjadi negara Islam. Karena Islam telah menyediakan seluruh perangkat yang dibutuhkan di zaman modern.

Karena pertentangan itulah yang kemudian bermuara pada darul mitsaq atau negara kesepakatan. Artinya tidak Bung Karno dan Mohammad Natsir, yaitu untuk kesepakatan mendirikan negara Pancasila.

"Di situ, semua perbedaan disatukan," tuturnya.

Mahfud menuturkan, pandangan cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid terkait tiga prinsip dalam memahami konsep darul mitsaq.

Pertama, pandangan tentang kesatuan ketuhanan. Karena pada dasarnya manusia bertuhan yang sama, yang berbeda-beda adalah ketika sudah dilembagakan.

Kedua, kalimatun sawa'. Di dalam semua perbedaan itu, kemudian dicari visi-vis dan kepentingan yang sama dan disetujui oleh semua agama dan suku. Misalnya terkait memilih pemimpin yang adil dan memberantas korupsi.

"Adapun kepada hal-hal yang sifatnya personal, silahkan jalan sendiri-sendiri," ucapnya.

Ketiga, al-hanifiah as-samhah. Bahwa Islam adalah agama yang lurus, tetapi menjunjung tinggi toleransi terhadap beragama.

"Lahirlah kemudian negara Pancasila ini," pungkasnya. []