Rahmah

Jelas! Begini Penjelasan Prof Nasaruddin Umar Mengenai Ketentuan Takdir

Takdir pada dasarnya tidak dapat diketahui, sementara nasib adalah sebuah hasil yang dapat dilihat dan dirasakan.


Jelas! Begini Penjelasan Prof Nasaruddin Umar Mengenai Ketentuan Takdir
Prof KH Nasaruddin Umar (InilahUstadz)

AKURAT.CO Takdir dalam bahasa Arab قدر (qodar) yaitu ketentuan suatu peristiwa yang terjadi secara suka dan tidak karena Allah yang menentukan manusia yang menjalankan Mahsyar kelak. Takdir pada dasarnya tidak dapat diketahui, sementara nasib adalah sebuah hasil yang dapat dilihat dan dirasakan.

Begitu juga yang disampaikan Cendekiawan Muslim Prof KH Nasaruddin Umar, ia menyebut jika takdir adalah rahasia Allah SWT.  Manusia tidak akan bisa memprediksi kehidupannya di hari esok secara pasti. Sebagus apapun yang sudah direncanakan, terkadang manusia kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.

"Kadang-kadang manusia berharap mendapat sepuluh, tetapi ia hanya dapat satu atau dua saja, inilah takdir," ujar Prof Nasaruddin dalam sebuah video yang diunggah melalui channel YouTube Nasaruddin Umar Official.

Prof Nasaruddin menjelaskan, jika di dalam kata takdir terdapat istilah qada dan qadar. Qada adalah ketentuan, kepastian dari Allah SWT. Sedangkan qadar merupakan bentuk detail dari qada.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu memberi contoh sebuah dua gelas yang dijatuhkan ke lantai secara bersamaan. Hal tersebut tentu membuat kedua gelas itu pecah. Tetapi jika satu gelas itu jatuh bukan ke lantai, melainkan ke sebuah karpet, maka tentu saja akan menghasilkan pecahan yang berbeda-beda dari kedua gelas kaca itu.

"Sama-sama pecah itu qadar, tetapi berapa jumlah pecahannya itu qada. Begitu juga dengan musibah kecelakaan, ada yang mati, ada yang hanya luka saja, tetapi keduanya sama-sama mengalami kecelakaan," kata Rektor PTIQ Jakarta tersebut.

Lebih lanjut Prof Nasaruddin memaparkan jika takdir bukan berarti Allah SWT sudah menetapkan segala sesuatunya, yang kemudian manusia hanya bisa pasrah, melainkan manusia harus selalu ikhtiar. Allah SWT selalu memberi pilihan kepada hamba-nya yang ingin berubah.

"Siapa yang kreatif, siapa yang penuh kematangan dalam perencanaan, dan siapa yang berjihad, berijtihad dan bermuajadah, tentu mereka akan bisa merubah takdir," sambung Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Dengan demikian, menurutnya, sebuah takdir bisa dirubah, meskipun hanya Allah SWT semata yang dapat merubahnya. Allah SWT yang menetapkan takdir, tetapi Allah SWT yang menghendaki jika ingin merubah takdir tersebut.

Ulama yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Agama Republik Indonesia itu kemudian mengutip Surat Ar-Ra'ad ayat 39 yang berbunyi:

يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَـٰبِ

Artinya: "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh),". (QS Ar-Ra'ad: 39)