Ekonomi

Jelang Rilis, Pertumbuhan Ekonomi Diramal Kisaran -2 Hingga -2,5 Persen

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2020 diperkirakan dikisaran minus 2 persen hingga minus 2,5 persen


Jelang Rilis, Pertumbuhan Ekonomi Diramal Kisaran -2 Hingga -2,5 Persen
Suasana pemukiman penduduk di Jakarta, Minggu (29/11/2020). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV dan sepanjang tahun 2020 pada Jumat siang (5/2/2021).

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2020 dikisaran minus 2 persen. Sementara sepanjang tahun 2020, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berkisar minus 2 persen hingga minus 2,5 persen.

“Pertumbuhan ekonomi triwulan IV di perkirakan di kisaran minus 2 persen. Tahun 2020 dikisaran minus 2 sampai minus 2,5 persen," sebut Piter Abdullah saat dihubungi Akurat.co, Jumat (5/2/2021).

Pertumbuhan yang masih minus di triwulan IV diperkirakan disebabkan konsumsi dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang masih terkontraksi. Menurut Piter, pertumbuhan ekonomi yang masih terkontraksi disebabkan masih terbatasnya aktivitas masyarakat yang membuat terkontraksinya konsumsi dan investasi.

“Selama aktivitas sosial ekonomi masyarakat masih terbatasi oleh pandemi Covid-19, maka konsumsi dan investasi akan tetap negatif,” lanjutnya.

Piter Abdullah menambahkan agar ekonomi pulih, satu satunya jalan adalah penanganan Covid-19 dengan mempercepat vaksinasi dan meningkatkan kedisiplinan masyarakat untuk melaksanakan protokol kesehatan.

Sementara, Kepala ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, pertumbuhan ekonomi kuartal keempat 2020 terkontraksi di kisaran minus 2,50 persen (yoy). Meski masih berada dalam zona negatif, tetapi capaian ini lebih baik daripada kontraksi pada kuartal ketiga 2020 yang sebesar 3,49 persen (yoy).

“Pertumbuhan ekonomi kuartal IV tahun 2020 diperkirakan terkontraksi di kisaran -2,50 persen (yoy) dari kuartal sebelumnya tercatat minus 3,49 persen (yoy),” katanya.

Menurut Josua Pardede, konsumsi rumah tangga yang menjadi motor penggerak perekonomian ini diperkirakan tumbuh di kisaran minus 2,6% persen (yoy) atau membaik dari kontraksi pada kuartal sebelumnya yang sebesar minus 4,0 persen (yoy).