Rahmah

Jelang Idul Fitri Kementan Pantau Ketat Stok Daging dan Telur


Jelang Idul Fitri Kementan Pantau Ketat Stok Daging dan Telur
Daging Sapi (istimewa)

AKURAT.CO Kementerian Pertanian menjamin ketersediaan stok daging sapi, daging ayam dan telur ayam ras  yang selalu meningkat permintaannya selama Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.

Pada Mei 2019, pasokan daging sapi nasional diperhitungkan mencapai sekitar 65 ribu ton, lebih tinggi dibanding total kebutuhan yang sekitar 59 ribu ton. Total pasokan (setelah ditambah daging kerbau impor)  pada periode Mei-Juni sekitar 145,4 ribu ton dengan total kebutuhan sekitar 123 ribu ton. 

“Dari data itu jelas bahwa diperkirakan kebutuhan masyarakat akan daging sapi menjelang Ramadan dan Idul Fitri bisa terpenuhi,” ujar Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHNak) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Fini Murfian dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (21/5/2019).

Sementara, pasokan daging ayam ras (boiler) pada Mei sebanyak 277.910 ton dan Juni 2019 sebesar 315.296 ton. Sedangkan, kebutuhan daging boiler pada Mei dan Juni masing-masing sebanyak 288.451 ton serta 288.451 ton. Selanjutnya, kondisi pasokan telur ayam ras di dalam negeri juga tak mengkhawatirkan.

Proyeksinya diperhitungkan berdasarkan populasi ternak ayam ras petelur (layer) produktif sebanyak 166.922.000 ekor pada Mei 2019. Total pasokan telur pada Mei dan Juni diperhitungkan masing-masing sebanyak 243.510 ton dan 236.580  ton. Sementara kebutuhannya di bulan Mei dan Juni masing-masing sebanyak 167.144 ton dan 150.185 ton.

Fini menjelaskan, seperti tahun lalu, biasanya permintaan daging sapi, daging ayam dan telur  di masyarakat menguat sehari sebelum puasa Ramadan (munggah), sehingga harganya sedikit meningkat. Namun di pertengahan Ramadan, permintaan dan harganya akan menurun dan baru akan menguat lagi seminggu menjelang Hari Raya Idul Fitri.

“Tapi yang terjadi selama ini saat munggah kenaikan permintaannya kecil masih dibawah lima persen. Menjelang lebaran lebih besar kenaikan permintaannya, bisa sekitar 20 persen dari kondisi normal,” katanya.

Dalam pengamatannya, masyarakat konsumen memiliki banyak pilihan dalam mendapatkan daging sapi mengingat  saat ini di pasaran beredar pula daging sapi dan daging kerbau beku. Bahkan harganya di bawah harga daging segar.

“Daging kerbau beku cukup banyak juga peminatnya karena  di tingkat eceran harganya hanya dikisaran Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram. Padahal, daging sapi segar bila mendekati lebaran harganya sudah di atas Rp100 ribu per kilogram,” jelas Fini.  

Sementara itu, Sekretaris Pinsar (Perhimpunan Insan Perungasan Rakyat Indonesia), Samhadi berpendapat, ada fenomena yang selalu muncul saat menjelang Ramadan dan Lebaran, yakni fluktuasi harga telur ayam. Biasanya 2 minggu sebelum puasa harga telur akan turun. Namun 10 hari menjelang  Lebaran harganya mulai merangkak naik.

“Ini kenapa? Ya karena menjelang lebaran biasanya orang kita suka membuat kue atau mengirimkan makanan,” katanya.

Samhadi juga tak menampik, naik turunnya harga telur ayam memang selalu terjadi setiap tahun. Meski demikian, pasokan dari peternak selalu stabil. Permintaan akan turun saat bulan Suro. Saat itu, khususnya masyarakat muslim umumnya tidak melakukan acara selametan (kenduri).

Selain itu, permintaan rendah pada saat libur panjang. Untuk mencukupi kebutuhan DKI Jakarta, Samhadi mengatakan, sebagian besar pasokan berasal dari Jawa Barat yakni, Bekasi, Bogor, dan Sukabumi. Sedangkan dari Jawa Tengah datang dari Magelang, Semarang, dan Solo. Sementara Jawa Timur berasal dari Blitar.

“Lampung juga memasok ke DKI Jakarta, tetapi tidak banyak. Intinya untuk DKI Jakarta kebanyakan berasal dari Jawa Barat,” ujarnya.[]

Sumber: Kementrian Pertanian

Ade Miranti

https://akurat.co