Ekonomi

Jelang Idul Adha, Waspada Harga Daging Diramal Meroket Paling Ekstrim!

Kenaikan harga beberapa komoditas pangan menjelang Idul Adha patut diwaspadai


Jelang Idul Adha, Waspada Harga Daging Diramal Meroket Paling Ekstrim!
Pedagang menunggu pembeli daging di kiosnya Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Jumat (7/5/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Kenaikan harga beberapa komoditas pangan menjelang Idul Adha patut diwaspadai. Lonjakan kasus positif Covid-19 di beberapa wilayah Indonesia juga dikhawatirkan dapat memengaruhi fluktuasi harga beberapa komoditas pangan.

Adapun berdasarkan data Indeks Bulanan Rumah Tangga (Indeks BU RT) dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menunjukkan, harga tujuh dari sembilan komoditas pokok mengalami kenaikan yang pesat. Kenaikan ini juga mendukung laju inflasi di bulan Mei hingga mencapai 0,38% di sektor makanan dan minuman.

Peneliti CIPS Indra Setiawan memaparkan di antara komoditas tersebut, harga daging mengalami kenaikan yang paling ekstrim. Pasalnya, dari bulan April ke Mei 2021, harga daging naik sekitar 7%, jauh lebih tinggi dibanding barang lainnya. Harga daging sapi meningkat dari Rp154.750 menjadi Rp165.900.

Harga ayam juga merangkak naik dari Rp36.900 ke Rp40.722. Adapun kenaikan ini bisa disebabkan beberapa faktor, seperti adanya peningkatan permintaan yang terjadi semenjak awal bulan Ramadan. Peningkatan ini jauh lebih pesat dibandingkan Ramadan tahun lalu dan berbarengan dengan permintaan menjelang Idul Adha.

" Selain itu, para pedagang tidak memiliki stok daging yang mencukupi. Mereka terpaksa menyembelih sapi betina, yang seharusnya mampu bereproduksi, untuk menjaga ketersediaan sapi jantan di Idul Adha. Kebijakan impor juga ditengarai menjadi penyebab kenaikan harga daging. Pasalnya, sapi di Australia sekarang sedang anjlok ketersediaannya," ujarnya, lewat keterangan tertulisnya, Rabu (23/6/2021).

Sementara itu, kenaikan harga ayam juga dipengaruhi sengketa Indonesia dengan World Trade Organization (WTO) perihal impor ayam dari Brazil. Impor ayam dari sana pun terus menurun. Selain itu, harga ayam juga didorong mahalnya harga pakan dan jagung yang ada di atas rerata Rp3.000 dan Rp5.000 untuk masing-masing. Kekurangan pasokan ini bisa menjadi faktor inflasi ayam yang cukup tajam.

Kenaikan harga ayam juga diikuti kenaikan harga telur. Harga telur naik sebesar tujuh persen dari Rp26.619 ke Rp28.170. Kenaikan harga ini terjadi setelah sebelumnya harga telur jatuh cukup dalam. Indra berpendapat bahwa kenaikan harga ini disebabkan oleh naiknya konsumsi telur jelang Idul Fitri. Kenaikan ini cukup pesat, hingga bisa menyaingi penurunan harga di periode sebelumnya.

Harga gula tidak mengalami banyak pergerakan dari segi harga, yaitu sebesar Rp81 selama satu bulan terakhir. Harga gula di Indonesia pun justru cenderung menurun akibat masuknya gula impor.  Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) juga menunjukkan bahwa harga gula naik dari Rp16.400 dari Rp18.000 pada bulan Mei.

“Namun, harga gula bisa menurun. Beberapa faktor, seperti serangan hama juga dapat menjatuhkan harga gula kedepannya. Kami menyimpulkan bahwa perbedaan ini disebabkan oleh impor yang lebih berefek ke harga gula di daerah,” jelas Indra. 

Tren pergerakan harga beras juga tidak jauh berbeda dengan pergerakan harga gula. Harga beras hanya sedikit meningkat dari Rp12.508 ke Rp12.589.

“Dapat disimpulkan bahwa bulan Mei dipenuhi dengan inflasi komoditas. Namun, inflasi yang ada belum tentu menggambarkan peningkatan dari permintaan konsumen. Permintaan yang meningkat hanya dapat dilihat dari perubahan harga daging. Di sisi lain, sejumlah komoditas masih cenderung dipengaruhi oleh kebijakan impor dan guncangan eksternal. Pemerintah perlu menganalisis masalah rantai pasokan dan ketersediaan di lapangan guna mencegah pergerakan harga yang ekstrim dan mengontrol inflasi,” tandasnya.

Pemerintah juga harus mengamati kemampuan konsumsi konsumen dalam membeli barang penting tersebut. Membaca pasar menjadi penting untuk menebak perilaku pembelian dalam mendekati hari raya yang akan datang. Pada akhirnya, kebijakan yang diambil pun dapat menyesuaikan dengan pergerakan harga.[]