Olahraga

Jelang Final, Menpora Coba Hilangkan Beban di Pundak Greysia/Apriyani

Greysia/Apriyani merupakan satu-satunya kesempatan Indonesia untuk membawa pulang medali emas di Olimpiade Tokyo 2020.


Jelang Final, Menpora Coba Hilangkan Beban di Pundak Greysia/Apriyani
Ganda putri andalan Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu. ()

AKURAT.CO, Kekalahan yang dialami Anthony Sinisuka Ginting di semifinal, maka Indonesia tinggal menggantungkan harapan ke Greysia Polii/Apriyani Rahayu untuk mendapatkan medali emas di Olimpiade Tokyo 2020. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali coba  menghilangkan beban Greysia/Apriyani agar bermain ciamik di partai final.

Menurut Menpora,  bertanding di Olimpiade atmosfernya berbeda dengan pertandingan di ajang series kejuaraan dunia lainnya. Sebab, pertandingan di ajang-ajang tersebut walaupun kalah masih ada kesempatan dalam ajang lain yang penyelenggarannya hamper setiap tahun. Sementara Olimpiade hanya digelar 4 tahun sekali.

Apalagi, Greysia/Apriyani merupakan satu-satunya kesempatan Indonesia untuk membawa pulang medali emas di Olimpiade Tokyo 2020.

“Jadi tekanan, pressure yang ada di olimpiade itu sangat besar, sangat sangat kuat. Jadi saya hanya berharap supaya mereka tidak terlalu tertekan, tidak terlalu merasa ada beban,” kata Menpora Amali saat menjadi narasumber secara live dalam acara Kompas Sport, Kompas TV, Sabtu (31/7) Malam.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung dirinya kepada Greysia Polii/Apriyani Rahayu saat melakukan video call dengan atlet Bulutangkis tersebut usai menang atas pasangan Korea Selatan, Lee So-hee/Shin Seung-chan.

“Saya sampaikan bahwa nggak usah mikirin beban apapun. Saya tidak memberi kamu beban, tetapi kamu main lepas, kamu main dengan enak saja, ya anggap saja sedang main di Pelatnas di tempat mereka di Cipayung sana,” harapnya, sebagaimana diberitakan Kemenpora.

Menpora Amali melanjutkan, apabila mereka tampil dengan beban dan tekanan, maka hal itu dapat membuat mereka melakukan kesalahan-kesalahan dalam pertandingan karena tidak fokus.

“Saya bilang nggak mungkin, dia (atlet) berpikir ini menteri pasti membebani harus emas, saya bilang gak. Kamu sudah sampai di final saja saya sudah senang dan pasti rakyat Indonesia bangga dengan kalian. Jadi hal-hal yang seperti itu, harus dilakukan pada mereka. Sehingga mereka tidak merasa tertekan dan dia punya beban, harus dibuat rileks, serileks mungkin,” jelasnya.

Kemudian terkait target, Menpora menjelaskan saat ini sudah ada Grand Design Olahraga Nasional yang telah disusun Kemenpora bersama para pakar, akademisi, praktisi olahraga, yang merupakan tindaklanjut dari arahan Presiden Joko Widodo dalam melakukan review total olahraga prestasi.

Di dalam Grand Design Olahraga Nasional tersebut, pemerintah menetapkan Olimpiade sebagai target utama dan setiap olimpiade diharapkan ada perbaikan peringkat olimpiade dunia. Untuk tahun Olimpiade Tokyo, Indonesia menargetkan peringkat 40 atau meningkat dari raihan saat olimpiade Rio De Janeiro 2016 lalu.“

Tapi tidak boleh jadi beban dan saya dari awal tidak membuat beban itu di satu atlet, di satu satu pasangan. Tetapi ini adalah tugas seluruh kontingen, tugas seluruh dari 28 orang yang berangkat,” lanjutnya.[]