Ekonomi

Jelang Akhir Tahun, Pemerintah Diminta Antisipasi Stok dan Harga Pangan

CIPS meminta pemerintah harus mengantisipasi stok dan harga pangan menjelang akhir tahun 2020. Perlu terus dipantau untuk menjaga daya beli masyarakat.


Jelang Akhir Tahun, Pemerintah Diminta Antisipasi Stok dan Harga Pangan
Pedagang melayani pembeli di Pasar Mede, Jakarta, Sabtu (30/11/2019). Harga sejumlah komoditas pangan di pasar tradisional mulai mengalami kenaikan menjelang Natal dan Tahun Baru. Beberapa komoditas yang naik tersebut di antaranya adalah bawang merah, ayam ras, telur ayam ras, dan minyak goreng curah. Namun kenaikan harga empat komoditas tersebut masih dalam tingkat wajar di tingkat harga acuan. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Head of Research Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta meminta pemerintah harus mengantisipasi stok dan harga pangan menjelang akhir tahun 2020.

"Antisipasi itu juga perlu mengingat ada perayaan Natal dan Tahun Baru yang akan datang, sehingga diprediksikan bahwa permintaan beras akan terus meningkat," katanya lewat keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (1/10/2020).

Menurutnya, pergerakan harga sebagai parameter ketersediaan komoditas pangan di pasar perlu terus dipantau untuk menjaga daya beli masyarakat.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga bawang putih terpantau fluktuatif antara Rp26.250–Rp26.800 per kilogram sejak awal hingga akhir September.

Sementara itu, harga daging sapi juga fluktuatif mulai dari Rp116.550–Rp118.200 pada periode yang sama. Fluktuasi harga juga terjadi pada komoditas lain, seperti bawang merah dan daging ayam.

Bahkan untuk komoditas cabai merah, harga meningkat dari Rp29.400 di awal bulan hingga Rp36.600 di akhir bulan. Harga beras cenderung stabil antara Rp11.800-Rp11.850.

Khusus untuk beras, dia menilai ketersediaan komoditas satu ini juga perlu terus dipastikan mengingat dampak perubahan iklim sudah menyebabkan mundurnya masa panen petani padi di beberapa daerah.

“Walaupun harga beras cenderung stabil, antisipasi stok dan harga perlu dilakukan hingga akhir tahun. Belum lagi karena musim tanam kemarau biasanya hanya menghasilkan lebih sedikit. Ditambah dengan adanya perayaan natal dan tahun baru yang akan datang, diprediksikan bahwa permintaan beras akan terus meningkat,” katanya.

Untuk solusi jangka panjang, koordinasi antar pihak terkait harus dilakukan agar fenomena kenaikan ini tidaklah menjadi kejadian yang akan selalu berulang dari tahun ke tahun.