News

Jazilul Sarankan Ide Poros Partai Islam Tak Perlu Terjadi

Jazijul menilai poros partai politik terjebak pada polarisasi dan politik identitas.


Jazilul Sarankan Ide Poros Partai Islam Tak Perlu Terjadi
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid saat menjadi pembicara dalam diskusi Empat Pilar MPR di Media Center, Nusantara III, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Jumat (9/4/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid mendukung wacana poros partai politik (parpol) Islam sebagai upaya untuk membangun kekuatan demokrasi dan persatuan yang lebih kuat.

Namun di sisi lain, wacana tersebut dinilai justru bisa membuat publik terjebak pada polarisasi dan politik identitas. 

“Hemat saya, bila tidak hati-hati, wacana ini bisa terjebak pada polarisasi dan politik identitas. Namun wacana ini masih selevel obrolan warung kopi, tidak jelas format dan arahnya. Menurut saya itu bakal sulit terwujud,” ujar Jazilul kepada pewarta, Sabtu (17/4/2021). 

Wakil Ketua Umum DPP PKB ini mengatakan, penggunaan istilah Poros Partai Islam juga menjadi persoalan tersendiri karena akan sulit diterima oleh publik. 

"Nggak tahu di Indonesia ini mayoritas penduduknya Islam, tapi kalau ada embel-embel Islam kok justru kurang bisa diterima, jadi kecil. Misalnya rumah sakit Islam, bank Islam, dan lain-lain. Saya setuju pada semangatnya, tapi tidak harus menggunakan istilah Koalisi Partai Islam,” terangnya. 

Selain itu, Anggota Komisi III DPR ini menilai, penggunaan istilah lain, misalnya Koalisi Kebangkitan dan Keadilan, atau Koalisi Persatuan Indonesia, justru lebih bisa diterima publik. 

“Daripada menggunakan kosa kata Islam karena Islam itu agama, jadi mungkin di Indonesia ini malah mengecilkan poros itu sendiri,” urainya. 

Namun, politikus yang akrab disapa Gus Jazil ini menegaskan bahwa wacana tersebut baru sebatas obrolan warung kopi yang tidak jelas format dan arahnya. 

“Tetapi kita, politik Indonesia ini butuh sesuatu yang baru, butuh alternatif-alternatif yang baru dari parpol maupun tokoh-tokoh parpol untuk menawarkan ide-ide segar untuk Indonesia, untuk pemberdayaan. Saya pikir itu yang menjadi poinnya,” tuturnya. 

Oleh karena itu, Gus Jazil menyarankan agar pembentukan Koalisi Poros Partai Islam tidak akan terjadi jika harus memaksakan penggunaan istilah agama. 

“Lebih baik dikatakan Poros Kebangkitan, Poros Keadilan, atau Poros Persatuan yang arahnya untuk menawarkan ide-ide baru bagi penguatan demokrasi, sekaligus penguatan ekonomi umat, pemberdayaan umat, pendidikan, dan macam-macam, jadi harus ada langkah-langkahnya,” tuturnya. 

Sebelumnya, pertemuan petinggi PKS dan PPP memunculkan wacana Poros Partai Islam pada 2024. Wacana tersebut kemudian bergulir dalam diskursus publik yang belakangan ramai diperbincangkan. 

Ada yang menyambut baik wacana tersebut sebagai sebuah gagasan baru, namun juga ada yang menganggap langkah tersebut sulit terwujud.[]

Arief Munandar

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu