News

Jazilul: Bahaya Kalau Daerah Kaya, tapi Masyarakatnya Tidak Sejahtera

Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid menyampaikan bahwa Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan alam melimpah.


Jazilul: Bahaya Kalau Daerah Kaya, tapi Masyarakatnya Tidak Sejahtera
Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bekerjasama dengan DKW Garda Bangsa Maluku Utara di Kota Ternate, Sabtu (23/10/2021). (MPR RI)

AKURAT.CO, Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid menyampaikan bahwa Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan alam melimpah. Baik kekayaan laut dan isinya, kesuburan tanahnya, dan gunung-gunungnya yang di dalamnya memiliki kandungan emas, nikel, dan lainnnya.

Untuk itu, Jazilul mengajak masyarakat agar kekayaan alam yang melimpah harus bisa dimanfaatkan. Dia menyebut salah satu kunci utamanya yaitu bagaimana bangsa ini memiliki sumber daya manusia (SDM) unggul yang bisa mengolah dan mengoptimalkan potensi kekayaan alam yang ada di negeri ini.

"Kekayaan alam kita luar biasa. Ketika zaman dulu kita dijajah karena penjajah ingin mendapatkan rempah-rempah, ternyata di bawah bumi kita banyak mineral, nikel, emas, minyak dan lainnya," kata Jazilul dalam keterangan tertulis, Minggu (24/10/2021).

"Tapi semua itu tanpa sumber daya manusia (SDM) yang baik, kekayaan alam kita tidak bermakna. Ibarat pepatah ayam mati di lumbung padi. Bahaya kalau daerah kaya, tapi masyarakatnya tidak sejahtera," imbuhnya.

Jazilul mengaku baru pertama kali singgah di Maluku Utara dan langsung jatuh hati melihat kekayaan alamnya yang luar biasa indah. Mulai dari gunung-gunung, lautan dan isinya.

"Ini tantagan bagi Maluku Utara. Saya jatuh cinta dengan Maluku Utara. Pulau-pulaunya indah, kandungannya macam-macam di dalam dan luar bumi. Termasuk ikan dan masakannya," ungkapnya.

Di sisi lain, Maluku Utara yang terdiri dari pulau-pulau juga merupakan daerah yang kaya akan budaya dan tradisi, termasuk bahasa. Keberagaman yang ada harus terus disatukan dalam balutan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945.

"Pancasila adalah dasar negara, pandangan hidup bangsa. Yang menyatukan suku-suku, adat, keyakinan, pikiran, itu ada di Pancasila. Kalau dasar ini dicabut, hilang negara," katanya.

Menurutnya, 4 Pilar tersebut tidak hanya cukup dimengerti, tapi harus dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.