Lifestyle

Ini Jaran Bodhag, Seni Pertunjukan Probolinggo yang Ada Sejak 1700

Jaran bodhag adalah kesenian pertunjukan tradisional Masyarakat yang berasal dari Probololinggo, Jawa Timur yang ada sejak tahun 1700.


Ini Jaran Bodhag, Seni Pertunjukan Probolinggo yang Ada Sejak 1700
Ilustrasi penari yang sedang membawakan tarian Jaran Bodhag. (Instagram/javaneseculture)

AKURAT.CO, Jaran bodhag adalah kesenian pertunjukan tradisional masyarakat yang berasal dari Probololinggo, Jawa Timur. Jaran Bodhag dalam terminologi bahasa Jawa “Jaran” berarti kuda dan “bodhag” (bahasa Jawa dialek Jawa Timur, khususnya wilayah Timur) berarti wadah atau bentuk lainnya. 

Meski kata "Jaran" berarti Kuda, jaran bodhag tidak menggunakan kuda asli, tetapi menggunakan semacam bentuk tiruan kuda dari bahan rotan dan kayu.

Pada masa lalu, jaran bodhag digunakan untuk mengumumkan hajat sunatan atau pernikahan masyarakat Probolinggo. Biasanya, pemain jaran bodhag akan datang ke rumah tetangga dan sanak saudara untuk mengumumkan suatu sunatan atau pernikahan. 

Akan tetapi, sekarang ritual berkeliling ke rumah tetangga dan sanak saudara mulai ditinggalkan. Pada masa-masa sekarang ini, tarian ini lebih banyak dilakukan dalam rangka memberikan hiburan pada perayaan nasional maupun daerah, pembukaan kantor atau usaha serta acara-acara perkumpulan warga saja. 

Lalu, kostum yang digunakan para pemain jaran bodhag adalah berbalut kain hitam polos. Sedangkan kostum bagi penuntun kuda baik itu laki-laki maupun perempuan adalah kostum hitam Madura biasa dan kaus loreng. 

Musik pengiring jaran bodhag yang ditampilkan adalah kenong tello (kenong tiga), sronen (seruling Madura), kendang, tambur, saron dan gong.

Jaran bedhog merupakan kesenian turunan dari kesenia jaran kecak. Tapi berbeda dengan jaran kecak yang menggunakan kuda asli, dikenakan dengan seragam jazirah perang serta kudanya dilatih untuk bergerak berbagai formasi, yang tersebar di Probolinggo, Jember, Banyuwangi, Bondowoso dan Tengger. Kesenian serupa jaran kecak adalah jaran jenggo di Pantura dan kuda renggong di Sunda.

Menurut cerita masyarakat di Probolinggo, seni budaya tradisional jaran bodhag ini dibuat oleh Mbah Namengjoyo. 

Beliau merupakan sosok yang membabat alas lumbang di tahun 1700, yang menciptakan ciri khas kesenian ini mengikuti keunikan orang Probolinggo.

Mbah Namengjoyo mempunyai keinginan kuat agar dobong atau bodhag menjadi kesenian budaya, sekaligus menjadi media untuk mensyiarkan agama Islam.

Dikutip dari laman Warisan Budaya Kemdikbud, jaran bodhag telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tanggal 17 Oktober 2014, dengan nomor registrasi 201400139.[]