Lifestyle

Jaran Bodhag, Kesenian Probolinggo yang Bermula dari Himpitan Ekonomi

Jaran Bodhag adalah pengembangan dari tarian Kuda Kencak. Hanya saja Jaran Bodhag tidak menggunakan kuda asli, melainkan kuda tiruan. 


Jaran Bodhag, Kesenian Probolinggo yang Bermula dari Himpitan Ekonomi
Pertunjukkan Jaran Bodhag (dispopar.probolinggokota.go.id)

AKURAT.CO, Selain memiliki keindahan alam yang mempesona, Provinsi Jawa Timur juga kaya akan seni budaya. Salah satunya adalah seni budaya Jaran Bodhag, khas Probolinggo. Dalam bahasa Jawa, jaran berarti kuda, sementara bodhag memiliki arti wadah. 

Jaran Bodhag adalah kesenian pertunjukan tradisional Masyarakat Probololinggo, Jawa Timur. Konon, Jaran Bodhag sudah ada sejak Kerajaan Majapahit, dan diciptakan oleh Mbah Namengjoyo. Kala itu. Mbah Namengjoyo diketahui sebagai sosok yang membabat hutan Lumbang pada tahun 1700.

Beberapa sumber lain mengatakan bahwa Jaran Bodhag mulai muncul pada awal Kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, masyarakat pinggiran atau orang-orang miskin ingin melihat pertunjukan Jaran Kencak alias pertunjukan kuda yang dilatih khusus untuk menari dan dirias dengan pakaian serta aksesoris lengkap.

Sayangnya, keterbatasan ekonomi membuat mereka tidak mampu untuk memiliki ataupun sekedar menyewa kuda. Oleh sebab itu, mereka membuat kuda tiruan yang dibuat dari kayu menyerupai kepala kuda sampai leher.

Kepala kuda tiruan itu kemudian disambung dengan peralatan lengkap dengan aksesoris mirip Jaran Kencak. Jadi, bisa dikatakan jika Jaran Bodhag adalah pengembangan dari tarian Kuda Kencak. Hanya saja, Jaran Bodhag tidak menggunakan kuda asli, melainkan kuda tiruan. 

Jaran Bodhag, Kesenian Probolinggo yang Bermula dari Himpitan Ekonomi - Foto 1
Jaran Bodhag warisanbudaya.kemdikbud.go.id

Dalam penampilannya, Jaran Bodhag dilakukan oleh dua orang pembawa Jaran Bodhag, serta dua orang Janis atau penari pengiring atau pembawa Jaran Bodhag. Pemain Jaran Bodhag menggunakan pakaian yang gemerlap dan menarik. Para pemain kemudian akan diarak dengan iringan musik kenong telo, sronen (seruling Madura), kendang, tambur, saron dan gong.

Adapun penampilan Jaran Bodhag tidak terlepas dari sesajen. Ada dua jenis sesajen, yaitu sesajen untuk tuan rumah dan sesajen untuk pemain, gamelan dan pengantin.

Sesajen untuk tuan rumah berupa berbagai barang-barang yang diikat pada tali dan masing-masing ujung tali diikat pada tiang. Barang tersebut digantung di depan pentas yang nantinya digunakan untuk pertunjukan.

Pada saat pertunjukan Jaran Bodhag, barang-barang itu akan dijadikan sebuah lagu yang berbentuk pantun. Sedangkan sesajen untuk pemain, gamelan dan pengantin biasanya berupa kelapa, beras putih, ayam mentah dan hidup, dua tandan pisang, jajan tujuh rupa, sirih, pinang, gula, kopi, cengkeh, tembakau, santan, kemenyan dan lain sebagainya.

Jaran Bodhag yang awalnya dianggap sebagai hiburan kelas bawah itu, kini telah berubah menjadi kesenian semua kalangan. Jaran Bodhag bahkan telah menjadi kesenian kebanggaan Kota Probolinggo, dan telah diakui sebagai Situs Warisan Budaya Tak Benda.

Saat ini, Jaran Bodhag sering ditampilkan dalam rangka memberikan hiburan pada perayaan nasional dan daerah, pembukaan kantor atau usaha serta acara-acara perkumpulan warga.[]