Ekonomi

Jangan Terlena Pandemi Mereda Ancaman Ini Hantui Indonesia, Dampaknya Horor!

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan perubahan ekonomi global yang merembes ke dalam ekonomi nasional


Jangan Terlena Pandemi Mereda Ancaman Ini Hantui Indonesia, Dampaknya Horor!
Ilustrasi aktivitas masyarakat mulai menggeliat usai pandemi mereda (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan perubahan ekonomi global yang merambat ke dalam ekonomi nasional membuat Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) atau kebijakan fiskal tahun 2022 harus merespons secara cepat.

“Alhamdulilah kita telah menangani pandemi secara efektif, sehingga tahun ini kita bisa melakukan kegiatan mudik lebaran,” ucap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dalam Banggar DPR RI Raker dengan Menteri Keuangan, Kamis (19/5/2022).

Ia menjelaskan 85 juta masyarakat yang melakukan mudik tidak menimbulkan kenaikan jumlah kasus Covid-19. Karena langkah-langkah untuk vaksinasi yang sudah mencapai lebih dari 60 persen serta protokol kesehatan yang terus ditetapkan secara tepat.

baca juga:

“ Ini adalah suatu langkah yang luar biasa karena masih menghadapi pandemi, kita juga tidak boleh terlalu terlena juga. Meskipun kita mensyukuri bahwa pandemi relatif bisa kita kelola,” jelas Sri Mulyani.

Risiko baru sudah mulai terlihat sejak tahun 2021 akan tetap menjadi melonjak karena adanya perang antara Rusia dan Ukraina maupun tekanan inflasi, serta lonjakan harga komoditas serta ekonomi dunia tidak berjalan dengan merata.

“ Sebetulnya sudah mulai mucul tahun lalu, ekonomi dunia tidak berjalan secara merata kecepatan dari pemulihan sisi demand jauh lebih cepat dibandingkan dengan respons dari sisi supply,” jelas Menkeu.

Di sisi lain, tenaga kerja atau distribusi tidak berjalan secepat pemulihannya dibandingkan dengan pemulihan fisik sehingga harga naik. Saat Menkeu di forum G20 para pembuat kebijakan terutama dari sisi moneter menganggap inflasi ini temporer karena dimana cepatnya sisi supply tertinggal.

Akan tetapi, diharapkan akan segera mengejar kebijakan moneter yang tertinggal.

“ Perang di Ukraina menambah risiko terhadap pasokan energi dan pangan. Kemudian terjadinya sanksi ekonomi menyebabkan disrupsi suplai menjadi tidak temporer tetapi cenderung permanen,” tambahnya.