Ekonomi

Jangan Senang Dulu Ekonomi Tumbuh 7,07 Persen, RI Masih Dibayangi Resesi!

Bhima meski Indonesia berhasil keluar dari resesi, namun masih dibayangi krmbali masuk resesi di kuartal III 2021.


Jangan Senang Dulu Ekonomi Tumbuh 7,07 Persen,  RI Masih Dibayangi Resesi!
Pengendara motor dengan mengenakan masker melintasi pertokoan di Pasar Baru, Jakarta, Kamis (2/4/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 akan turun menjadi 2,3 persen dan dalam skenario terburuk bahkan bisa mencapai -0,4 persen akibat penyebaran COVID-19. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2021 yang diukur dari Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 7,07 persen bandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Bila dibandingkan secara kuartalan maupun tahunan, pertumbuhan ini lebih tinggi dari minus 0,74 persen pada kuartal I 2021 dan minus 5,32 persen pada kuartal II 2020. Sementara secara akumulatif, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 3,1 persen pada semester I 2021 dari semester I 2020.

Dengan pencapaian tersebut, Indonesia resmi keluar dari lubang resesi setelah pada kuartal I 2021 pertumbuhan ekonomi masih terkontraksi minus 0,74 persen.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan meski Indonesia berhasil keluar dari resesi, namun masih dibayangi kembali masuk resesi di kuartal III 2021.

Hal ini karena adanya lonjakan kasus COVID-19 dan perpanjangan PPKM hingga level 4. Dengan demikian konsumsi diperkirakan turun tajam bahkan lebih rendah dibanding triwulan I 2021.

"Kita berhasil keluar satu kuartal dari resesi, tapi proyeksinya pertumbuhan ekonomi kembali minus di kuartal ke III 2021 karena adanya lonjakan kasus covid dan PPKM level 4," katanya kepada Akurat.co, Kamis (5/8/2021).

Bhima juga mengatakan agar tidak senang dulu. Sebab yang terpenting saat ini adalah pemerintah tetap fokus untuk mengantisipasi perekonomian di kuartal III dan IV agar bisa selamat dari resesi dan tumbuh positif selama keseluruhan tahun 2021.

Lebih lanjut, Bhima menilai wajar jika kuartal ke II tumbuh tinggi 7,07 persen karena di kuartal ke II tahun 2020 lalu sangat anjlok -5,3 peresen. Jadi ada sedikit pemulihan saja langsung positif tinggi. Ini disebut low base effect.

Selain itu, di kuartal ke II masih belum ada PPKM darurat dan mobilitasnya lebih baik dari kuartal ke III. Pada kuartal ke II juga harus diakui ada pemulihan yang semu, misalnya Indeks Keyakinan Konsumen naik menjadi 107,4 menunjukkan masyarakat mulai optimis berbelanja.