Lifestyle

Jangan Sampai Resistensi Antibiotik, Yuk Patuhi Aturan 5T ini

Resistensi antibiotik disebut sebagai silent pandemic


Jangan Sampai Resistensi Antibiotik, Yuk Patuhi Aturan 5T ini
Ilustrasi minum obat antiobiotik (BBC.COm)

AKURAT.CO, Antibiotik adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri dan parasit tertentu. Saat ini, masyarakat tidak hanya didapatkan dari resep dokter, tapi  juga bisa dibeli bebas di apotek. Sayangnya, banyak masyarakat yang salah menggunakan antibiotik, sehingga menyebabkan tingginya kasus resistensi antibiotik.

Resistensi antibiotik merupakan kondisi saat bakteri bertahan hidup dari serangan antibiotik. Hal ini mengakibatkan bakteri yang memicu penyakit menjadi 'kebal' dengan antibiotik dikonsumsi.

Faktanya, hampir 70-80 persen penggunaan antibiotik tidak bijak, mendekati tidak rasional. Data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menunjukkan penggunaan antibiotik meningkat 91 persen secara global. Konsumsi antibiotik juga bertambah sampai 165 persen di negara-negara berkembang sepanjang tahun 2000 sampai 2015. 

Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan petunjuk dokter  menjadi salah satu penyumbang terbesar angka resistensi antimikroba atau AMR di dunia kesehatan. Vida Parady, mewakili Yayasan Orangtua Peduli (YOP), mengatakan bahwa resistensi antibiotik merupakan krisis kesehatan dunia.

"Resistensi antibiotik disebut sebagai silent pandemic. Namun, banyak pihak belum peduli akan dampak resistensi antibiotik," kata Vida Parady dalam acara Virtual Media Briefing, Kamis (10/6/2021).

Saat seseorang sudah resisten antibiotik, maka muncul masalah lain yakni morbiditas atau kesakitan bertambah, risiko mortalitas meningkat karena seharusnya penyakit bisa teratasi dengan antibiotik tetapi akibat sudah resisten justru menyebabkan pengonsumsinya meregang nyawa.

Imran Agus Nurali, Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan pun mengimbau agar masyarakat cerdas dan lebih bijak dalam penggunaan antibiotik.

Imran menyampaikan, pemerintah telah menerbitkan pedoman umum penggunaan antibiotik. Pedoman ini bisa menjadi acuan bagi tenaga kesehatan dalam meresepkan antibiotik pada pasien secara lebih tepat. Masyarakat pun diharapkan  dapat mengikuti panduan 5T yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, yakni :

  • Tidak membeli antibiotik sendiri tanpa resep dokter.
  • Tidak menggunakannya untuk selain infeksi bakteri. Masyarakat harus  tahu bahwa antibiotik digunakan untuk penyakit akibat infeksi bakteri, seperti demam tifoid, meningitis, tuberkulosis, difteri. Namun, antibiotik tidak perlu untuk penyakit akibat virus dan kuman, seperti demam dan flu. Penyakit akibat virus memiliki sifat bisa sembuh dengan sendirinya (self limiting disease). 
  • Tidak menyimpan antibiotik untuk persediaan di rumah.
  • Tidak memberikan antibiotik sisa untuk orang lain.
  • Tanyakan pada apoteker informasi obat antibiotik.

”Inovasi pemberdayaan masyarakat dalam penggunaan obat rasional termasuk antibiotik dilakukan melalui gerakan masyarakat cerdas menggunakan obat. Tenaga kesehatan dan rumah sakit diharapkan bisa turut mendukung gerakan ini,” kata Imran.