Ekonomi

Jangan Reaksi Berlebihan Terhadap Omicron, Bos AirAsia Minta Pemerintah Fokus Pangkas Biaya PCR

Pandemi Covid-19 belum juga usai, kini pasalnya malah muncul lonjakan kasus Covid-19 yang dipicu oleh varian Omicron


Jangan Reaksi Berlebihan Terhadap Omicron, Bos AirAsia Minta Pemerintah Fokus Pangkas Biaya PCR
Pesawat Air Asia mendarat di Bandara Silangit Sumatera Utara (Air Asia)

AKURAT.CO Pandemi Covid-19 belum juga usai, kini pasalnya malah muncul lonjakan kasus Covid-19 yang dipicu oleh varian Omicron. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak negara-negara di kawasan Asia-Pasifik untuk meningkatkan kapasitas perawatan kesehatan mereka dan memvaksinasi lengkap warganya.

Varian Omicron pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan bulan lalu dan dinyatakan sebagai 'varian dalam pemantauan' oleh WHO. Para ilmuwan pun masih mengumpulkan data untuk menentukan seberapa menularnya dan tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya.

CEO AirAsia Group Tony Fernandes meminta pemerintah untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap munculnya varian baru Omicron dari Covid-19. Sebagai gantinya, Fernandes meminta fokus pada pengurangan biaya pengujian PCR.

“Ini reaksi berlebihan yang sangat besar. Kami belum tahu apa-apa tentang varian ini. Mari kita tunggu dan lihat sebelum kita melompat," kata Fernandes melansir Bangkok Post di Jakarta, Jumat (12/3/21) pada pidato virtual di Forum Internasional Bangkok Post 2021 yang dijuluki "Melepas Masa Depan: Sekilas Menuju 2022 dan Setelahnya" hari Kamis kemarin.

Kepala eksekutif maskapai berbiaya rendah ini mengatakan dunia sudah lebih siap menangani Omicron yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan, daripada jenis sebelumnya.

“Ada pil Merck, dan pil Pfizer akan keluar. Kami divaksinasi. Ada booster yang tersedia. Saya merasa jauh lebih bullish, dan saya tidak melihat malapetaka dan kesuraman,” katanya.

“Pemerintah perlu menggunakan akal sehat dan melihat apa yang dibutuhkan. Saya pikir pembatasan perjalanan dan [tindakan semacam itu] bersifat sementara, dan dunia bersifat global. Tidak peduli seberapa banyak kita menutup perbatasan, virus akan menyebar.” lanjutnya.

Lebih lanjut, Fernandes mengkritik harga dan frekuensi tes PCR yang dibutuhkan oleh banyak pemerintah, termasuk Thailand, ketika para pelancong memasuki perbatasan mereka. Dia mengatakan ini berisiko menghalangi penumpang untuk berlibur meskipun ada permintaan untuk menjelajah ke luar negeri.

“Tidak ada pemerintah yang memperhatikan biaya tes PCR. Tes PCR di Asia Tenggara sangat mahal. Tidak adil bagi penumpang untuk membayar biaya semacam itu. Tentu saja, kami ingin aman, tetapi buatlah sesederhana mungkin.” ujarnya tegas.

Lihat Sumber Artikel di Warta Ekonomi Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan Warta Ekonomi. Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari Warta Ekonomi.