Lifestyle

5 Mitos Tentang Aborsi yang Tak Perlu Dipercaya Lagi

Terlepas dari pendapat masyarakat tentang aborsi, banyak mitos yang beredar terkait aborsi, yang tentu saja menyesatkan sekaligus membahayakan.


5 Mitos Tentang Aborsi yang Tak Perlu Dipercaya Lagi
Ilustrasi - mitos tentang aborsi (FREEPIK)

AKURAT.CO, Aborsi adalah suatu prosedur untuk mengakhiri kehamilan. Saat ini, gagasan tentang aborsi kerap mendapat penilaian negatif di masyarakat. Terlepas dari pendapat masyarakat tentang aborsi, banyak mitos yang beredar terkait aborsi, yang tentu saja menyesatkan sekaligus membahayakan.

Berikut AKURAT.CO uraikan beberapa mitos yang sering dipercaya tentang aborsi, dilansir dari berbagai sumber, Kamis, (21/10/2021):

Aborsi boleh dilakukan kapan saja

Dikutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia, aborsi biasanya dilakukan sebelum kehamilan berusia 20 minggu atau saat berat janin masih kurang dari 500 gram. Sementara di beberapa negara, aborsi hanya boleh dilakukan pada trimester pertama dan sebelum usia kehamilan 24 minggu berdasarkan persetujuan dokter. Melakukan aborsi di trimester ketiga dilarang karena berdampak pada kehidupan ibu dan janinnya yang sangat rawan dan berbahaya.

Aborsi bisa bikin mandul

Ini adalah mitos yang paling sering terdengar saat bicara tentang dampak aborsi. Terkadang, aborsi yang kamu lakukan dapat memengaruhi kesuburan di masa depan, terutama bila dilakukan dengan prosedur yang tidak tepat, mengutip Healthline. Namun, risiko kemandulan sangat kecil, bahkan jarang terjadi. Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah bahwa aborsi bisa menyebabkan kemandulan bila dilakukan secara ilegal sesuai dengan prosedur medis rumah sakit.

Pemicu kanker payudara

Selain kamandulan, aborsi kerap kali dikaitkan dengan kanker payudara. Ada mitos yang menyebutkan bahwa aborsi bisa meningkatkan peluang seorang perempuan untuk terkena penyakit kanker payudara. Faktanya, aborsi tidak berhubungan dengan kanker payudara. 

Aborsi menyebabkan depresi dan trauma psikologi berkepanjangan

Pada tahun 1980-an, banyak kelompok anti-aborsi di Amerika Serikat mengampanyekan dampak negatif aborsi. Salah satunya adalah post-abortion syndrome alias trauma atau depresi setelah aborsi. Namun, para peneliti menyebutkan bahwa hal ini belum terbukti.

Faktanya, 95 persen wanita yang melakukan aborsi pada akhirnya merasa telah membuat keputusan yang tepat, mengutip Huffington Post. Ibu hamil yang mengalami kondisi medis tertentu malah akan merasa stres saat kehamilannya tidak normal dan cenderung membahayakan.

Aborsi lebih berbahaya dari melahirkan

Aborsi dan melahirkan, faktanya, memiliki risiko komplikasi. Namun, itu bisa diminimalisir selama prosedur dilakukan sesuai prosedur medis dan dilakukan oleh ahli. Selain itu, tidak ada hasil penelitian yang membuktikan bahwa aborsi lebih berbahaya daripada melahirkan. 

Adapun pemerintah telah menetapkan aturan tegas tentang aborsi dalam dalam Undang-undang tentang Kesehatan Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi. Aborsi tidak diizinkan, kecuali dengan alasan kedaruratan medis ibu dan bayi serta bagi korban pemerkosaan.[]