Lifestyle

Jangan Paksa Anak Berhenti Menangis, Tenangkan Dengan Cara Ini

Memaksa anak berhenti menangis, sama saja dengan menekan emosi mereka.


Jangan Paksa Anak Berhenti Menangis, Tenangkan Dengan Cara Ini
Ilustrasi - Jangan memaksa anak berhenti menangis, Bahaya (Freepik/master1305)

AKURAT.CO, Mendengar anak-anak menangis dan merengek bisa membuat frustrasi. Akan tetapi para peneliti menyarankan Bunda untuk tidak memaksanya berhenti menangis.

Menangis adalah alat komunikasi yang vital bagi anak-anak. Mereka menangis karena terluka, marah, frustrasi, sedih, tidak sehat, atau lelah. Sering kali pula menangis adalah satu-satunya cara yang mereka tahu untuk mengekspresikan perasaan ini. Ini juga melatih keterampilan sosial-emosional anak.

Memberitahu anak untuk berhenti menangis akan membatasi apa yang dia pikir bisa diungkapkan.

baca juga:

Menurut Psychology Today, memaksa atau terus-menerus meminta anak untuk berhenti menangis, itu sama saja dengan menekan emosi mereka.

Secara tidak sadar, Bunda dan Ayah telah mengirim pesan bahwa perasaan mereka tidak penting, tidak valid, konyol, dan menyebalkan.

Pada akhirnya, anak akan merasa bahwa dirinya tidak boleh mengungkapkan apa yang dirasakannya.

Apabila hal ini dilakukan terus menerus, anak akan merasa bahwa dirinya tidak boleh merasakan apapun.

Tentu saja, ini berbahaya. Kondisi ini bisa terbawa hingga dewasa, dan berpotensi mengganggu kesehatan mental. 

DR. Adi W. Gunawan CCH mengatakan bahwa anak bisa menjadi gagap karena Bunda atau Ayah memaksanya atau bahkan mengancamnya untuk berhenti menangis. 

"Ketika anak nangis sesenggukan dan langsung disuruh berhenti oleh orang tuanya apalagi dengan ancaman, kan tangisnya langsung tertahan. Itu lama-lama bisa memengaruhi anak dan dia jadi gagap nantinya," ujar Adi, dikutip AKURAT.CO, Senin (4/7/2022). 

Melarang anak menunjukkan emosinya akan terbawa hingga mereka dewasa. Pada waktunya nanti, mereka bisa saja meyakini bahwa mereka tidak boleh mengekspresikan perasaannya. Padahal, menahan emosi dapat mengganggu kesehatan mental.

Jika ingin anak belajar bagaimana mengatur emosi, maka Bunda tidak dapat boleh melarang ketika mereka mencoba mengekspresikannya lewat menangis. 

Percayalah, suatu hari anak akan tahu bagaimana menangani perasaannya dan mengekspresikannya pada waktu yang dianggap 'pantas' oleh orang dewasa.

Alih-alih melarang, membentak, atau mengancam, Bunda dan Ayah harus mendukung pengembangan regulasi emosinya dengan empati dan pengertian. 

Daripada "berhenti menangis", cobalah mengatakan hal berikut ini : 

  • Tidak apa-apak kok untuk bersedih. 
  • Ini pasti sangat sulit untukmu. 
  • Bunda ada untukmu. 
  • Coba ceritakan, ada apa/apa yang membuatmu sedih.
  • Itu pasti sangat menakutkan/mengecewakan/menyedihkan dll.
  • Bunda akan membantumu untuk menyelesaikannya
  • Kamu butuh waktu untuk sendiri. Tapi ingat, Bunda ada di sini. Bunda akan selalu berada di dekatmu, dan carilah bila kamu sudah siap.[]