Lifestyle

Suami Paksa Istri Berhubungan Seks adalah Kategori Pemerkosaan dan Bisa Dibui!

Setiap suami yang memaksa istri melakukan hubungan seks dikategorikan sebagai marital rape. Ini tidak boleh dianggap remeh karena efeknya pun tidak baik.


Suami Paksa Istri Berhubungan Seks adalah Kategori Pemerkosaan dan Bisa Dibui!
Marital rape alias pemerkosaan dalam pernikahan

AKURAT.CO, Rancangan Undang-Undang tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP)mengatur pasal terkait tindak pemerkosaan atau rudapaksa yang dilakukan suami terhadap istri, maupun sebaliknya. Kasus pemerkosaan seperti ini disebut marital rape atau pemerkosaan dalam perkawinan.

Dalam Pasal 479 RKUHP, disebutkan bahwa setiap orang yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang bersetubuh dengannya dipidana karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama 12 tahun. 

Menurut Muhammad Endriyo Susilo dalam Jurnal Media Hukum berjudul Islamic Perspective on Marital Rape (hal. 320), sebetulnya istilah marital rape tidak hanya berupa satu bentuk, namun setidaknya ada bentuk lain sebagai berikut: 

  • Battering rape: istri mengalami kekerasan fisik dan seksual sekaligus saat suami memaksa istri untuk melakukan hubungan seksual.
  • Force-only rape: suami menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk memaksa atau mengancam istri agar mau melakukan hubungan suami istri. Hal ini dilakukan manakala istri sebelumnya menolak.
  • Obsessive rape: istri atau pasangan mendapat kekerasan seksual dalam bentuk perlakuan sadis dalam melakukan hubungan seksual, seperti suami melakukan kekerasan fisik dengan memukul, menarik rambut, mencekik atau bahkan menggunakan alat tajam yang melukai istri untuk mendapatkan kepuasan seksual.

Banyak orang menertawakan tentang pemerkosaan dalam perkawinan ini. Ya, mereka menilai bahwa dalam pernikahan, pasangan wajib melayani keinginan seksual satu sama lain. Namun kamu perlu mengingat bahwa hubungan seks harus selalu dilakukan atas persetujuan kedua belah pihak, dan pernikahan bukanlah cara legal untuk memaksa seseorang melakukan hubungan seks.

Dalam kasus ini, suami seharusnya mencoba mencari tahu dan mengerti berbagai faktor lain yang melatarbelakangi penolakan sang istri.

Kamu mungkin mengira bahwa efek dari marital rape lebih ringan dari kasus pemerkosaan pada umumnya. Namun, kamu salah. Pemerkosaan tetaplah pemerkosaan. Korban marital rape tetap akan merasakan efek yang sangat buruk fisik dan psikisnya.

Korban marital rape (umumnya istri) akan merasakan trauma yang mendalam. Pasalnya, seseorang yang dianggap melindungi dan menjaganya ternyata bisa menyakiti dirinya. Perasaan kecewa dan dikhiananti juga melingkupi korban.

Melansir Healthy Place, seperti efek pemerkosaan pada umumnya, korban marital rape juga akan merasa terhina, cemas (anxiety), ketakutan, insomnia, menyalahkan diri sendiri, dan merasa ketakutan. Efekn ini bisa sangat lama dan menyiksa.

Tak hanya kondisi psikis saja yang terganggu, korban marital rape juga kerap mengalami kekerasan fisik. Dalam banyak kasus, pelaku biasanya tidak segan melakukan kekerasan fisik agar mau berhubungan seks.

Menurut majalah ilmiah Sultan Agung Islamic University, dampak dari pemerkosaan ini juga akan mempengaruhi kehidupan anak. Anak dapat mengalami depresi. Tak hanya itu saja, anak juga berpotensi untuk melakukan kekerasan pada pasangannya kelak apabila telah menikah.[]