Ekonomi

Jangan Berspekulasi Ibukota Sudah Herd Immunity, Ini Alasannya!

pemerintah khususnya Pemprov DKI dan masyarakat Jakarta untuk tidak bereuphoria apalagi berspekulasi bahwa Ibukota negara telah mencapai herd-immunity


Jangan Berspekulasi Ibukota Sudah Herd Immunity, Ini Alasannya!
vaksinasi Covid-19 Sinopharm untuk mencapai herd-immunity di GOR Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (7/10/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) mengingatkan pemerintah khususnya Pemprov DKI dan masyarakat Jakarta untuk tidak bereuphoria apalagi berspekulasi bahwa Ibukota negara telah mencapai herd-immunity.

Tingkat positivity rate DKI Jakarta yang pada Juli 2021 lalu rata-rata menembus 40 persen, kini jatuh dibawah 1 persen, jauh dibawah ambang batas WHO yang 5 persen. Kematian harian yang pada puncak gelombang ke-2 rata-rata diatas 120 kasus, kini telah mendekati nol. 

DKI Jakarta menjadi satu-satunya wilayah di Indonesia saat ini dengan tingkat vaksinasi yang sangat tinggi, mendekati 100 persen. Penduduk yang telah mendapatkan vaksinasi penuh (vaksin ke-2) sudah berada di kisaran 80 persen. Penduduk yang telah mendapatkan vaksin ke-1 bahkan telah menembus 100 persen. 

“Dengan tingkat vaksinasi yang sangat tinggi ini, DKI Jakarta kini mengalami pemulihan pandemi yang sangat menjanjikan. Meski penduduk dengan vaksinasi penuh di DKI Jakarta telah mendekati 100 persen, bukan berarti herd-immunity otomatis tercapai,” kata Yusuf Wibisono, Direktur IDEAS dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu (16/10/2021).

Yusuf menambahkan beban pandemi di ibukota kini telah menjadi sangat terkendali. Vaksinasi massal mampu mengendalikan dampak virus dengan menekan angka kesakitan dan kematian, namun tidak dengan penyebarannya. 

“Karena transmisi virus dapat terus terjadi meski di tengah tingkat vaksinasi yang tinggi, maka potensi ledakan kasus tetap akan terus mengintai. Maka meningkatnya mobilitas masyarakat ditengah disiplin protokol 3M kian melemah, berpotensi untuk menciptakan ledakan kasus ke depan,” ucap Yusuf.

Menurut Yusuf, asumsi kunci dari herd-immunity adalah transmisi virus terhenti ketika orang yang divaksin atau pernah terinfeksi memiliki imunitas dan tidak akan menyebarkan virus. Herd-immunity karenanya hanya relevan jika kita memiliki transmission-blocking vaccine. 

“Meski vaksin sangat membantu mencegah pemburukan kondisi akibat virus, namun vaksin yang kini tersedia tidak cukup mampu mencegah orang terinfeksi dan menyebarkan virus ke orang lain. Terlebih kini dengan kehadiran virus varian baru yang jauh lebih menular,” tutur Yusuf.

Bukti lebih jauh kini terjadi di banyak negara dengan tingkat vaksinasi tinggi. Berbagai negara dengan vaksinasi tinggi kini mengalami lonjakan kasus Covid-19 yang sangat signifikan, terutama dari serangan varian delta.