Lifestyle

Jangan Asal, Perhatikan 5 Etika Menggunakan Media Sosial

Ada lima etika yang dapat pengguna media sosial lakukan, dalam bijak bersosial media. Berikut lima etika mengguankan media sosial.


Jangan Asal, Perhatikan 5 Etika Menggunakan Media Sosial
Aplikasi media sosial. (AKURAT.CO/Tria Sutrisna)

AKURAT.CO Perkembangan teknologi informasi yang serba canggih, membuat semua orang dapat bertindak apapun yang dikehendaki.

Terlebih, hampir semua sumber informasi digital, salah satunya dari media sosial, berlalu lalang dengan mudahnya tanpa filter, yang bisa membahayakan bagi para penikmat maupun penyebarmua.

Dari sisi hukum, hadirnya UU ITE sedikit membawa angin segar untuk seluruh pengguna sosial media dalam menyampaikan aspirasi maupun isi konten, yang akan mereka sebar melalui platform favoritnya. 

baca juga:

lalu, adanya batasan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan akan menjadi batasan tersendiri, agar kita bisa lebih bijak dalam menyebarkan informasi yang ada.

Menurut Brand Manager Situs Hukum George Mason Danar Sofyan, ada lima etika yang dapat pengguna media sosial lakukan, dalam bijak bersosial media. Berikut lima etika mengguankan media sosial. 

Penggunaan Komunikasi yang Baik

Memanfaatkan akun media sosial, tidak cuma untuk yang asal melempar komentar atau suka asal memberikan informasi saja, melainkan juga memperhatikan penerima informasi. 

Pemilihan topik, kata dan bahasa yang tepat dan baik, menjadikan informasi, yang dibagikan ke publik di media sosial menjadi nyaman. 

Menginformasikan yang Benar

Kebenaran atau kepastian dari sebuah informasi adalah hal utama yang perlu ditekankan. Bagi pengguna jejaring sosial, harus cerdas untuk menyaring beragam informasi yang disajikan. 

Apakah berita tersebut pasti? Sumber beritanya jelas ? hal ini menghindari kita mengkonsumsi informasi bohong atau hoax. 

Sedangkan, bagi penyebar informasi, dituntut cerdas dalam memastikan informasi berdasarkan hasil dari pengecekan fakta.

Tak Mengandung Aksi Kekerasan, Pornografi dan SARA

Beragam informasi yang akan diunggah di media sosial, sebaiknya menghindari penyebaran yang mengandung aksi kekerasan, pornografi ataupun SARA (Suku, Agama dan Ras). 

Misalnya, seseorang ingin memberikan informasi dengan fakta yang sebenarnya atau peristiwa di tempat kejadian, seseorang mengupload foto dari korban kecelakaan, kekerasan dan sebagainya. 

Alangkah baiknya, informasi yang diberikan bersifat informatif dan edukatif, tidak menyinggung suku, agama atau ras tertentu.

Menghargai karya orang lain 

Setiap orang punya hak untuk berkarya, termasuk mengunggah hasil karya di media sosial yang dimilikinya. 

Misal berupa foto, desain grafis, video atau sekadar tulisan. 

Alangkah baiknya, apabila seseorang ingin menggunakan karya tersebut, maka perlu mencantumkan sumbernya. Termasuk dalam membuat cuitan atau keterangan.

Beri informasi pribadi sewajarnya

Bagi sebagian orang, media sosial digunakan sebagai wadah menampilkan diri sendiri. 

Beragam konten dimuat di media sosial, mulai dari gaya hidup, aktivitas sehari-hari, prestasi serta capaian hidup.

Hal ini memang menjadi hak setiap insan atas akun media sosial yang dimiliki, tetapi alangkah baiknya jika kita tetap perlu waspada atau berhati-hati dalam memberikan sajian informasi.

Penyebaran terkait data diri bisa diberikan sewajarnya saja. Sebab, risiko penyalahgunaan informasi pribadi juga seringkali terjadi oleh orang yang tidak bertanggung jawab.. 

Banyak oknum yang tidak bertanggung jawab menggunakan informasi pribadi orang lain untuk kepentingannya sendiri, misalnya untuk melakukan penipuan dan sebagainya.

Sementara itu, Danar Sofyan menuturkan jika kebebasan berpendapat di sosial media bisa kelewatan, akan membahayakan semua elemen yang ada. 

"Kita pernah ada dalam situasi yang buruk dalam bermain sosial media. Berita hoax dan maraknya informasi palsu dengan mudahnya menyebar dan efeknya kita bisa rasakan sampai sekarang." ujar Danar melalui ketarangan pers yang diterima AKURAT.CO, dikutip pada Kamis (12/5/2022)

Berbekal hal tersebut, menurut Danar Sofyan, George Mason mencoba melihat dari perspektif berbeda terhadap hukum di sosial media. 

"Hadirnya George Mason merupakan cara dan upaya agar hukum terhadap permasalahan serta komponen lainnya yang berhubungan dengan sosial media di Indonesia bisa lebih terarah dan dapat diterima masyarakat luas" tambah Sofyan.