Tech

Jangan Asal Copas, Hormati Hak Cipta Kreator di Dunia Digital

Maraknya konten kreator yang cover dan hanya meniru tanpa izin dengan komersialisasi merugikan kreator asli.


Jangan Asal Copas, Hormati Hak Cipta Kreator di Dunia Digital
Ilustrasi Konten Kreator (pixabay.com/viarami)

AKURAT.CO  Pemahaman tentang hak cipta di dunia maya dapat menghindarkan diri dari masalah hukum.

Lantaran dunia digital tak sebesar yang dikira banyak orang.

Terdapat aturan di dalamnya, termasuk dalam hal hak cipta seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

baca juga:

Demikian yang mengemuka dalam webinar bertajuk Pahami Hak Cipta Lindungi Karya Digital Kita", Senin (4/7), di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. 

Acara yang dipandu Abi Satria itu menghadirkan narasumber Jurnalis dan Content Writer Achmad Rafiq; Junior IT dan SAP Ade Kurniawati; Dosen Udinus sekaligus Anggota Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) Astini Kumalasari M.I.Kom. 

Dalam webinar tersebut, Achmad Rafiq mengatakan, sekarang ini masyarakat dituntut untuk terus meningkatkan keterampilan digital mengingat semakin cepatnya perkembangan teknologi internet. 

Tujuannya, untuk dapat memudahkan warganet menerima informasi, menghindari berita bohong atau hoaks, melindungi data pribadi, serta pencegahan akan bahaya penipuan online. 

Adapun pengetahuan yang perlu dimiliki antara lain pemahaman terkait mesin pencari, pemanfaatan aplikasi percakapan dan media sosial, serta aplikasi dompet digital dan transaksi online. 

"Kecakapan digital Anda dalam menggunakan mesin pencari dapat memfilter diri dari paparan berita hoaks sekaligus menyeleksi lagi informasi yang dibutuhkan. Mengenal sistem transaksi daring, mulai dompet digital, e-commerce, dan transaksi online diharapkan dapat terhindar dari risiko penipuan," jelas Rafiq. 

Sementara, menurut Ade Kurniawati, dalam penggunaan internet dan media sosial warganet juga harus memahami aturan mengenai copyright sebagaimana yang diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. 

Sehingga, masyarakat dapat terhindar dari tuntutan sanksi atau pidana dengan menjaga diri untuk tidak sembarangan menggunakan ataupun membagikan hasil karya orang lain di media digital.

Ia mencontohkan, banyak kasus pembekuan akun-akun di platform internet maupun media sosial yang dibekukan aktivitasnya lantaran pelanggaran hak cipta, semisal menggunakan brand atau logo milik orang lain. 

"Sebagai pencipta suatu karya, kita dapat menuntut orang-orang yang mengklaim maupun menggunakan karya yang kita buat. Selain di Indonesia, perlindungan hak cipta juga sudah diakui oleh PPB lewat organisasi hak atas kekayaan intelektual atau WIPO," ujarnya. 

Astini Kumalasari menambahkan, untuk tetap menjaga etika dalam penggunaan internet dan media sosial, warganet juga harus mampu menghargai karya orang lain di ruang digital. 

Misalnya, dengan meminta izin dan mencantumkan sumber ketika mengunggah foto, tulisan, video, gambar, serta cuplikan film di blog ataupun media sosial.

Oleh sebab itu, warganet harus berhati-hati dalam menampilkan karya orang lain di internet. 

"Kita harus pahami etika hak cipta di ranah digital. Jangan gunakan gambar, foto, atau hasil karya apapun di internet tanpa izin untuk kepentingan komersial. Lisensikan, kalau perlu ajak bicara pemilik karya dan nanti bisa dibahas bagaimana pembagian keuntungannya," tutur Astini. 

Pengguna internet di Indonesia pada tahun 2021 mengalami peningkatan. We Are Social mencatat bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta pengguna, di mana 170 juta penggunanya menggunakan media sosial. 

Dapat dikatakan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 61.8% dari total populasi Indonesia. Menurut Survei Literasi Digital di Indonesia pada tahun 2021, indeks atau skor literasi digital di Indonesia berada pada angka 3,49 dari skala 1-5. Skor tersebut menunjukkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam kategori "sedang".

Sebagai respons untuk menanggapi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi melakukan kolaborasi dan mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital di Kalimantan.

Program ini didasarkan pada empat pilar utama literasi digital yakni Kemampuan Digital, Etika Digital, Budaya Digital, dan Keamanan Digital. Melalui program ini, 50 juta masyarakat ditargetkan akan mendapat literasi digital pada tahun 2024.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif.

Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0. 

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. 

Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial Siberkreasi (Instagram, TikTok, Twitter, YouTube & Facebook).