News

Jam Malam Anak di Yogyakarta Resmi Berlaku, Catat Waktunya!

Perwal melarang anak usia bawah 18 tahun untuk meninggalkan rumah pada pukul 22.00 - 04.00 WIB setiap harinya, kecuali dalam kondisi tertentu.


Jam Malam Anak di Yogyakarta Resmi Berlaku, Catat Waktunya!
llustrasi jam malam (Pexels.com/Karolina Grabowska)

AKURAT.CO Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta resmi menerapkan aturan jam malam bagi anak di wilayahnya. Kebijakan ini diambil demi meminimalisir maraknya kasus kejahatan jalanan atau kerap disebut klitih.

Kebijakan ini mengatur pelarangan bagi anak usia bawah 18 tahun untuk meninggalkan rumah pada pukul 22.00 - 04.00 WIB setiap harinya, kecuali dalam kondisi tertentu. Aturan ini tertuang melalui Peraturan Walikota (Perwal) Yogyakarta Nomor 49 Tahun 2022 tentang Jam Malam Anak.

Perwal ini hanya mengizinkan anak untuk pergi meninggalkan rumah dalam beberapa kondisi. Antara lain, mengikuti kegiatan sekolah atau lembaga resmi; aktivitas sosial/keagamaan di lingkungan tinggal; anak bepergian didampingi orang tua atau wali; kondisi keadaan bencana atau darurat; bisa menunjukkan dokumen atau surat kegiatan yang dapat dipertanggungjawabkan.

baca juga:

Perwal ini juga mengatur sederet sanksi bertingkat. Mereka yang melanggar aturan bisa dikenai teguran lisan, peringatan tertulis, atau pembinaan di balai rehabilitasi yang ditunjuk.

Pj Wali Kota Yogyakarta Sumadi menerangkan, Perwal ini diterbitkan salah satunya demi mencapai misi menciptakan kota layak anak.

"Jadi jam malam bukan seperti pengertian orang perang gitu ya. Artinya begini, kita kan menyadari sebetulnya kami di Kota Yogyakarta itu ingin membuat kota layak anak," kata Sumadi saat dihubungi, Kamis (23/6/2022).

Keluarga, menurut dia, berperan penting dalam pemenuhan misi menciptakan kota layak anak tersebut. Jam malam, sementara itu, dibuat untuk mengintensifkan interaksi anak-keluarga di dalam rumah.

Pasalnya, berdasarkan hasil survei pihaknya, kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) di wilayah Kota Yogyakarta dipicu kurangnya interaksi keluarga di dalam rumah. 

"Salah satu item penting kota layak anak itu bagaimana adanya relasi hubungan antara keluarga yang selama ini agak terkikis. Itu anak-anak kalau malam sekarang ya di rumah, di situ ada relasi hubungan antara orang tua-anak, dengan saudara, simbahnya, biar ada komunikasi," kata Sumadi.

Fenomena ABH terkait kejahatan jalanan yang mayoritas terjadi pada tengah malam atau dini hari, lanjut Sumadi, juga disinyalir karena kurangnya wadah bagi anak untuk menunjukkan eksistensinya. 

Maka dari itu pemkot kini mulai menyiapkan sejumlah ruang publik sebagai sarana menyalurkan kreativitas. Salah satu yang telah dimiliki pemkot adalah Edu Park di Umbulharjo. 

Meski secara infrastruktur bisa dikatakan siap, persoalannya adalah kegiatan untuk mewadahi eksistensi anak itu masih minim atau belum terdesain.

"Makanya kita siapkan kegiatan itu sore sampai jam 8 (malam). Mereka sudah beraktivitas, capek, pulang ya tidur. Jangan jadi malam-malam keluyuran," tandasnya.[]