Lifestyle

Jalur Rempah Masuknya Islam dan Terbentuknya Kota Ambon

Masuknya keyakinan baru, adanya komunitas suku dari pulau jauh, berdirinya cagar budaya sekaligus kota Ambon tak bisa lepas dari Jalur Rempah


Jalur Rempah Masuknya Islam dan Terbentuknya Kota Ambon
Pemandangan Kota Ambon (visitambon2020)

AKURAT.CO, Maluku menjadi salah satu daerah yang cukup penting dalam perdagangan rempah dunia, terutama keberadaan beberapa pelabuhan di kepulauannya. 

Dalam catatan etnografis Suma Oriental, catatan perjalanan seorang asal Portugis, Tomé Pires, melukiskan tentang Kepulauan Maluku (Ambon, Ternate dan Banda) sebagai the spice islands atau kepulauan rempah.

Pernyataan tersebut memang tepat karena wilayah Maluku memang dikenal sebagai penghasil rempah-rempah, terutama cengkeh, pala dan bunga pala. Untuk cengkeh, tanaman asli dari Ternate dan Tidore ini sudah melanglang buana dan telah digunakan berabad-abad lalu oleh bangsa Eropa. 

Dikutip dari laman jalurrempah.kemdikbud.go.id, Harga rempah pun pernah melebihi harga emas karena begitu sulitnya rempah ini didapat oleh bangsa lain, terutama bangsa Eropa saat musim dingin tiba.

Hal ini yang sekaligus membuat banyak pedagang asing dari berbagai belahan dunia datang ke Maluku dan memulai rute perdagangan Jalur Rempah.

Jejak-jejak Jalur Rempah di Kepulauan Maluku dapat dilihat dari catatan sejarah pada abad ke-14, di mana Pelabuhan Hitu (sekarang menjadi Pelabuhan Huseka'a Hitu) sudah ramai dan didatangi para pedagang Indonesia yang akan membawa rempah-rempah ke luar Indonesia. Pada kala itu, belum ada Pelabuhan Ambon.

Jalur Rempah Penyebab Masuknya Islam Dan Terbentuknya Kota Ambon - Foto 1
Jalur Rempah Pelabuhan Hitu Instagram

Hal ini terjadi karena Pelabuhan Hitu merupakan daerah lalu lintas perdagangan cengkeh, yang dilakukan oleh orang Banda menuju utara dan sebaliknya. 

Dikutip dari "Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Adat Abad X-XVI: Kepulauan Banda, Jambi dan Pantai Utara Jawa" karya Razif & M. Fauzi, situasi kala itu memperlihatkan bahwa Pelabuhan Hitu merupakan jaringan pelabuhan untuk transitnya para pedagang, yang mana pengaruhnya mampu menciptakan kemunculan pedagang-pedagang lokal dari jazirah Leihitu dan Huamual di Pulau Seram yang membawa rempah-rempah ke luar Pulau Seram, Maluku.

Berkembangnya kerajaan islam di Hitu, yakni Kerajaan Tanah Hitu, juga tak lepas dari rute perdagangan Jalur Rempah yang mendatangkan para pedagang sekaligus pendakwah. Hal ini juga sekaligus membuat Pelabuhan Hitu menjadi multietnis. 

Adanya pemukiman orang Jawa di Hitu, juga merupakan dampak dari rempah cengkeh yang menjadi salah satu komoditi perdagangan di Pulau Jawa. 

Ini juga persis dialami sejarah Ambon sebelum kedatangan orang Portugis, di mana pelabuhan mereka telah menjadi titik pusat perdagangan. Tidak hanya rempah-rempah domestik, seperti buah pala dan bunga pala, cengkeh juga dikumpulkan di Ambon, untuk dijual kepada para pedagang asing yang datang dari Banda ke tempat-tempat dari dalam maupun dari luar Nusantara.

Pada paruh pertama abad ke-16, penanaman cengkeh mulai ada dalam sejarah Ambon dan kepulauan Seram. Perluasan penanaman cengkeh ini juga didorong oleh permintaan yang pesat dari Portugis, dibawah koordinasi pemerintahan penjajah Protugis di Maluku. 

Jejaknya hingga hari pun masih bisa kita lihat dari cagar budaya, berupa Benteng New Victoria (saat masa penjajah Protugis, bernama Nossa Senhora da Anunciada) yang berada di tengah kota Ambon. Kala itu, Benteng New Victoria digunakan untuk mengawasi jalannya perdagangan rempah di Pelabuhan Ambon oleh penjajah Portugis.   

Jalur Rempah Penyebab Masuknya Islam Dan Terbentuknya Kota Ambon - Foto 2
Jalur Rempah Benteng New Victoria Instagram

Benteng ini merupakan cikal bakal dari Kota Ambon, dan sempat menjadi pusat pemerintahan VOC sebelum dipindah ke Batavia oleh Jan Pieterzon Coen. Selain itu, Pelabuhan Ambon juga turut dijadikan VOC sebagai pusat pengawasan, agar kapal-kapal lokal menghindari pelabuhan sekitar Ambon dan Hitu.

Sementara itu, Benteng New Victoria beberapa kali mengalami kerusakan yang cukup hebat akibat gempa bumi yang melanda kawasan Ambon dan sekitarnya, yaitu pada tahun 1643-1644 dan tahun 1673-1674.

VOC membangun beberapa bangunan di dalam benteng yang dimanfaatkan untuk kepentingan militer dan sebagai tempat bermukim. Bangunan-bangunan tersebut di antaranya adalah barak, gudang senjata, gudang peluru, dan lainnya. 

Bangunan yang masih ada hingga kini, misalnya adalah pos prajurit penjaga dan gudang senjata. Selain bangunan, dinding benteng juga masih berdiri kokoh, termasuk salah satu pintu gerbangnya.

Dari sini kita dapat melihat bahwa masuknya keyakinan baru, adanya komunitas suku dari pulau jauh, berdirinya cagar budaya sekaligus kota, yang kini masih berdiri. Tak bisa dilepaskan begitu saja dari Jalur Rempah.

Kapan kamu ke Maluku?[]