M. Rifki Fadilah

Peneliti Bidang Ekonomi The Indonesian Institute, Alumnus Fakultas Ekonomi UNJ, Alumnus INDEF School of Political Economy Batch 16.
Ekonomi

Jalan Terjal Rezim Bunga Murah

Jalan Terjal Rezim Bunga Murah
Ilustrasi - Tren Kinerja Positif (AKURAT.CO/Ryan)

AKURAT.CO Dunia kembali dikejutkan oleh laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2019 besutan Bank Dunia. Pasalnya, Bank Dunia kembali memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun 2019 sebanyak 0.3 poin persentase menjadi 2,6 persen (Global Economic Prospects, 2019). Hal ini juga diperparah oleh genderang perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang kian kisruh dan diproyeksikan akan berakibat pada turunnya pertumbuhan perdagangan internasional hingga satu poin persentase menjadi 2,6% dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Merespon hal tersebut sejumlah bank sentral dunia mengambil kebijakan moneter yang lebih lunak guna memacu pertumbuhan ekonomi dalam negerinya. Misalnya, European Central Bank (ECB) dan Bank of Japan (BoJ) sudah lama mengenakan suku bunga nol bahkan negatif. Saat ini, suku bunga acuan ECB di level 0,00% untuk main refinancing operations dan 0,25% untuk marginal lending. Sedangkan suku bunga acuan BoJ berada di level -0,10%. Sementara itu, di kawasan Asia Bank Negara Malaysia (BNM), The Reserve Bank of Australia (RBA), Reserve Bank of India (RBI) yang sama-sama telah memangkas tingkat suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps).

Lebih lanjut, sinyal pemangkasan suku bunga semakin berhembus kencang dari The Federal Reserve (The Fed). Hal ini juga seolah diaminkan oleh Gubernur Federal Reserve Jerome Powell yang memberikan sinyal pemangkasan bunga acuan yakni dengan mengubah standar referensinya dalam menentukan suku bunganya dengan menakar dampak perang dagang dan akan mengambil kebijakan yang lebih sesuai dengan keadaan. Bank sentral AS itu menilai kondisi perang dagang memberikan risiko tinggi terhadap perekonomian dunia dan AS sehingga kemungkinan besar suku bunga FFR sebesar 2,25-2,5 persen akan dikerek turun.

baca juga:

Apa Kabar Indonesia?

Dari dalam Negeri, Bank Indonesia (BI) sedang meramu bauran kebijakan moneternya dalam transmisi suku bunga yang akan diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada Rabu, minggu ini (19/06/2019). Jika kondisi perekonomian Indonesia yang menjadi pertimbangannya, maka kita dapat membedahnya satu persatu. Misalnya dari sisi inflasi, berdasarkan data Thomson Reuteurs Datastream (2019), Tercatat sejak November 2018 hingga Mei 2019 angka inflasi Indonesia menunjukkan tren yang stabil dan rendah serta cenderung melandai dengan angka inflasi kisaran 3 - 2 persen. Meskipun sempat bergejolak pada Mei 2019 karena momentum. bulan Ramadan dan Lebaran. Namun, diperkirakan angka inflasi ini masih tetap terkendali sesaui ekpektasi BI ahkan cenderung melandai hingga akhir tahun 2019.

Dari sisi nilai tukar, berdasarkan data dari Bank Indonesia (2019) dari periode Mei 2018 - Juni 2019, Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika (USD) secara umum menguat. Dengan berada dikeseimbangan barunya kisaran Rp14.000 - 15.000 per USD. Dan sepanjang tahun 2019 ini nilai tukar Rupiah juga dapat dikatakan cukup tenang dan stabil. Tidak seperti tahun 2018 yang cukup bergejolak hebat. Tidak hanya itu, Rupiah juga menguat terhadap mata uang lainnya, seperti Euro (EUR), Yen Jepang (JPY) dan Poundsterling Inggris (GBP).

Lebih lanjut, nilai IHSG juga terus menguat tajam, hal ini menandakan bahwa kepercayaan investor sudah mulai pulih terhadap investasi di Indonesia. Indonesia tidak lagi dianggap rentan (fragile), khususnya terhadap krisis moneter atau mata uang seperti tahun lalu. Dan awal Juni kemarin, lembaga pemeringkat global, Standard & Poors (S&P), menaikkan peringkat utang Indonesia menjadi 'BBB' dari 'BBB-'. S&P juga meningkatkan rating utang sovereign jangka pendek dari 'A-2' ke 'A-3'. hal ini membuat Indonesia semakin menjadi negara yang layak untuk investasi.

Jalan Terjal Rezim Bunga Murah

Melihat dan menimbang dari kondisi dalam dan luar negeri pada akhirnya membuat banyak pihak mulai tergiur dan mulai merongrong BI untuk mengendurkan tali pinggang kebijakan moneternya. Hal ini ditambah dengan data bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selalu meleset dari target yang ditetapkan pemerintah. Sehingga banyak pihak berharap agar BI mau menurunkan bunga acuannya.

Secara teori transmisi penurunan suku bunga acuan akan menurunkan suku bunga kredit sehingga permintaan akan kredit dari perusahaan dan rumah tangga akan meningkat. Penurunan suku bunga kredit juga akan menurunkan biaya modal perusahaan untuk melakukan investasi. Ini semua akan meningkatkan aktivitas konsumsi dan investasi, sehingga dapat mendorong aktivitas perekonomian.

Kendati demikian, memangkas suku bunga tidaklah semudah membalikkan tangan. BI yang memegang dua mandat untuk menjaga stabilitas dan juga pro terhadap pertumbuhan harus mampu bersikap responsif dan akomodatif serta berhati-hati dengan adanya risiko terhadap pelemahan kurs Rupiah. Mengingat BI tetap harus memerhatikan satu indikator yang cukup penting sebelum merubah stance kebijakannya, yaitu defisit neraca transaksi atau Current Account Deficit.

Per definisi, neraca transaksi berjalan adalah neraca yang menggambarkan devisa yang masuk dan keluar dari ekspor-impor barang dan jasa. Transaksi berjalan sendiri, merupakan salah satu fondasi penting bagi stabilitas nilai tukar. Berdasarkan itung-tungan BI, defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal I-2019 defisit menembus angka US$ 7 miliar. Setara 2,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan diperkirakan perbaikannya terbatas di kisaran 2,7%-3% per PDB dibandingkan 3,57% per PDB pada kuartal IV/2019. Apabila, defisit transaksi berjalan tak dapat diimbangi dengan pasokan devisa dari portofolio keuangan seperti hot money, maka neraca pembayaran Indonesia (NPI) pun bukan tidak mungkin bakal terjun bebas.

Hal itu menandakan keseimbangan eksternal jomplang karena devisa yang keluar lebih banyak dibandingkan yang masuk. Kondisi ini tentu juga tidak baik bagi perekonomian domestik. Tantangan terbesar dari penurunan defisit transaksi berjalan agaknya bersumber dari harga minyak. Jika harga minyak meningkat, defisit transaksi berjalan akan membengkak karena Indonesia net importer minyak. Alhasil, performa neraca perdagangan akan dihantui defisit. Kondisi ini akan bergantung pada respon kebijakan pemerintah.

Tantangan lainnya adalah proyek infrastruktur pemerintah yang membebani impor. Di mana proyek infrastruktur memiliki tujuan yang positif, tetapi proyek tersebut mendorong banyak impor mesin, besi dan baja. Jika pemerintah bersedia untuk melakukan perpanjangan jadwal penyelesaian proyek, Penulis yakin perbaikan impor dapat lebih maksimal. Langkah mendorong ekspor di tengah perlambatan global sulit dilakukan. Satu-satunya cara adalah menekan impor agar defisit transaksi berjalan tidak bengkak.

Tahun lalu, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan untuk menekan impor. Apabila kebijakan tersebut dirasakan kurang maksimal, Penulis menegaskan pemerintah harus berani untuk menaikkan harga BBM dan memperpanjang jadwal penyelesaiaan proyek infrastruktur. Dan terakhir, guna menyumbat pendarahan CAD Indonesia sebetulnya pemerintah maupun otoritas keuangan dapat menutupnya dengan investasi asing, khususnya dari Foreign Direct Investment (FDI). Dalam hal ini, FDI harus diarahkan untuk berorientasi ekspor dan mendongkrak produktivitas dalam negeri.

Agaknya inilah yang memberatkan BI untuk mengerek turun suku bunganya. Jika Indonesia benar-benar menginginkan rezim bunga murah maka kita harus memastikan semua indikator dan dasar pijakan kita berdiri sudah kuat. Kita juga harus berpikir berpikir jauh lebih panjang mengenai dampak dan efek yang akan didapat dari setiap kebijakan yang dibuat. BI juga harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusannya. Alih-alih menurunkan suku bunga guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi, nyatanya dalam jangka panjang kebijakan yang diambilnya hanya bersifat populis semata dan malah memperkeruh perekonomian domestik. Sebagai penutup penulis berpesan mudah-mudahan Indonesia bisa segera benar-benar memasuki rezim suku bunga rendah yang membawa berkah. []