Olahraga

Jalan Panjang Guru SMP Wujudkan Mimpi Pimpin Final Olimpiade Tokyo 2020 Jelang Pensiun

Wahyana menjadi satu-satunya wasit pertandingan bulu tangkis di Olimpiade Tokyo 2020 asal Indonesia


Jalan Panjang Guru SMP Wujudkan Mimpi Pimpin Final Olimpiade Tokyo 2020 Jelang Pensiun
Wahyana, pria asal Godean, Sleman, DIY, yang menjadi wasit ​di ajang bulu tangkis Olimpiade Tokyo 2020 (Dok. Pribadi)

AKURAT.CO Wahyana, pria asal Godean, Sleman, DIY, berhasil menggapai mimpi menginjakkan kakinya ke final bulu tangkis Olimpiade Tokyo 2020. Bukan sebagai atlet, namun selaku pengadil.

Wahyana jadi saksi teriakan memekik Chen Yu Fei di seisi stadion Musashino Forest Sport Plaza yang kosong tanpa penonton, Minggu (1/8) malam. Pebulu tangkis asal Tiongkok itu meraih medali emas usai menundukkan lawannya Tai Tzu Ying dari Taiwan lewat tiga set sengit.

Bagi Chen Yu Fei dan Wahyana, Olimpiade Tokyo sama-sama menjadi panggung debut mereka. Bedanya, jika Chen Yu Fei melakoninya di usia terbilang muda, Wahyana mencapai di turnamen bergengsi empat tahunan itu satu tahun jelang purna tugas sebagai wasit.

Namun, Olimpiade Tokyo 2020 ini sudah cukup untuk melengkapi CV Wahyana yang berkarier di dunia perwasitan tepok bulu sejak awal tahun 2000an. Lagi pula ajang olahraga internasional ini bisa dibilang idaman bagi mereka yang menjalani profesi sebagai wasit.

"Olimpiade ini memang kenangan luar biasa karena hampir semua wasit itu mendambakan bisa bertugas di Olimpiade. Karena ini merupakan event tertinggi di dunia," kata Wahyana yang dihubungi, Selasa (3/8/2021) kemarin.

Jalan Panjang Guru SMP Wujudkan Mimpi Pimpin Final Olimpiade Tokyo 2020 Jelang Pensiun - Foto 1
 Dok. Pribadi

Kata Wahyana, tidak sembarang wasit bisa memimpin jalannya laga di Olimpiade. Minimal, mereka wajib mengantongi lisensi dari Badminton World Federation (BWF).

Wahyana muda mulai mengaitkan hidupnya dengan dunia olahraga sejak dirinya menjadi pemain bola voli. Sayang, sebelum mencapai puncak karier ia sudah harus terlebih dahulu dipaksa pensiun karena cedera engkel berkepanjangan.

Di tahun-tahun setelahnya, Wahyana memulai lembaran baru sebagai guru olahraga di SMP N 4 Patuk Gunungkidul. Profesi itu ia lakoni hingga detik ini. Dirinya mulai lekat dengan dunia bulu tangkis pada penghujung tahun 90an.

"Karena badan mulai gemuk karena jarang olahraga saya diajak teman-teman badminton. Setelah agak lama di badminton ditawari menjadi hakim garis dulu di tingkat kabupaten, tidak langsung jadi wasit. Itu tahun 1998-2000," ungkap alumnus IKIP Yogyakarta atau kini lebih dikenal dengan nama UNY.