Lifestyle

Jaga Warisan Budaya Leluhur, Aksara Pegon Akan Didigitalisasi

Semakin hilangnya eksistensi budaya leluhur menggerakkan PANDI untuk melestarikan lewat digitalisasi


Jaga Warisan Budaya Leluhur, Aksara Pegon Akan Didigitalisasi
Warga belajar menulis Arab Pegon di Panggung Krapyak, Yogyakarta, Minggu (24/2/2019). (AKURAT.CO/Wean Guspa)

AKURAT.CO, Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) mendapatakan dukungan dari Pondok Pesantren Al Ikhlash Gresik, Jawa Timur, untuk mendigitalisasikan aksara Pegon sebagai bagian dari program pelestarian budaya daerah peninggalan leluhur.

Dalam pertemuannya dengan pengasuh dan pemilik Pondok Pesantren Al Ikhlash, Ketua PANDI, Yudho Giri Sucahyo, mengatakan bahwa gagasan mendigitalisasikan aksara Pegon ini merupakan bagian dari program “Merajut Nusantara melalui Digitalisasi Aksara”.

Sebelumnya, PANDI telah mendigitalisasikan aksara Sunda, Bali, Rejang, Batak, dan Bugis.

“PANDI melakukan hal ini untuk melestarikan bahasa-bahasa daerah karena ingin memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia sebagai wujud nasionalisme yang dituangkan dalam bentuk upaya digitalisasi aksara Nusantara warisan leluhur agar generasi muda dapat mengenal dan memahami aksara-aksara asli daerah terdahulu yang kini kian terkikis zaman,” kata Yudho, Selasa, (24/11).

Digitalisasi ini nantinya akan memudahkan proses pembinaan dan pengembangan aksara Pegon karena bisa diakses dan tersedia di perangkat mobile dan merupakan bentuk pelestarian budaya lokal agar bisa tetap hidup dan mengikuti zaman.

Menurut Yudho, Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Lebih dari 700 (tujuh ratus) bahasa daerah yang tersebar di seluruh pelosok negeri, yang masing-masing memiliki aksaranya sendiri.

Digitalisasi akan terus digerakkan oleh PANDI bersama dengan komunitas terkait agar semakin banyak masyarakat yang menggunakan aksara leluhurnya. Dengan begitu, aksara daerah akan terus lestari. Digitalisasi aksara Nusantara diyakini sebagai kunci untuk tetap menghidupkan warisan nenek moyang.

“Ibarat gayung bersambut, kami mendukung penuh gagasan ini (digitalisasi aksara) karena bisa melestarikan budaya pesantren di era digitalisasi, yang penting arahnya ke mana (positif) kita mengikuti, yang penting jangan ke mana-mana,” ujar pemimpin Pondok Pesantren Al Ikhlash, K.H. Alfin Sunhaji yang juga Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Cabang Gresik.

Makna lafal Pegon berasal dari lafal Jawa pego, yang berarti menyimpang, karena memang menyimpang dari literatur Arab dan Jawa. Karena itu, dalam perbincangan soal gagasan tersebut mengemuka persoalan bahwa aksara Pegon ternyata belum ada standarisasi di antara para penggunanya.

Sumber: Antara

Bonifasius Sedu Beribe

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu