Ekonomi

Jaga Pertumbuhan Upah, Bank Sentral Jepang Pilih Pertahankan Kebijakan Moneter Ultra Longgar

deflasi Jepang yang berlangsung hingga 2013 perusahaan negara menjadi sangat berhati-hati dalam menaikkan harga dan upah


Jaga Pertumbuhan Upah, Bank Sentral Jepang Pilih Pertahankan Kebijakan Moneter Ultra Longgar
Aktivitas warga Jepang dalam sebuah pusat perbelanjaan di Shinagawa Ward Tokyo Jepang yang ramai, Maret 2021 ( KYODO)

AKURAT.CO, Bank of Japan akan mempertahankan kebijakan moneter ultra longgar lantaran ekonomi tidak terlalu terpengaruh oleh tren inflasi global. Gubernur Haruhiko Kuroda mengungkapkan akan menekankan pengalaman 15 tahun negara Jepang dengan deflasi menjaga pertumbuhan upah tertahan.

Melansir dari Reuters, Rabu (29/6/2022), ia menjelaskan inflasi konsumen inti Jepang mencapai 2,1 persen selama dua bulan berturut-turut di bulan Mei, tetapi kenaikan itu hampir seluruhnya disebabkan oleh melonjaknya harga energi.

Sementara inflasi konsumen inti mungkin tetap sekitar 2 persen selama sekitar satu tahun, kemungkinan akan melambat menjadi sekitar 1 persen pada tahun fiskal berikutnya yang dimulai pada April 2023.

baca juga:

“Tidak seperti ekonomi lainnya, ekonomi Jepang belum banyak terpengaruh oleh tren inflasi global. Sehingga kebijakan moneter akan terus akomodatif,” ucap Gubernur Haruhiko Kuroda.

Setelah 15 tahun, deflasi Jepang yang berlangsung hingga 2013 perusahaan negara menjadi sangat berhati-hati dalam menaikkan harga dan upah.

"Ekonomi pulih dan perusahaan mencatat keuntungan tinggi. Pasar tenaga kerja menjadi cukup ketat. Tapi upah tidak banyak naik dan harga tidak naik banyak,” jelasnya.

Melonjaknya harga komoditas global dan melemahnya yen, yang meningkatkan biaya impor bahan mentah, telah mendorong inflasi konsumen inti Jepang di atas target 2 persen BOJ.

Tetapi Kuroda telah berulang kali menekankan perlunya mempertahankan suku bunga yang sangat rendah sampai inflasi lebih didorong oleh permintaan yang kuat, membuat BOJ menjadi outlier di antara gelombang global bank sentral yang menaikkan suku bunga untuk memerangi lonjakan inflasi.

Menurutnya sangat sulit untuk menilai dampak berbagai perubahan struktural, seperti risiko geo-politik dan digitalisasi terhadap ekonomi global.