News

Jadi Tulang Punggung Keluarga hingga Salah Sasaran, Pembelaan Terdakwa Sate Beracun yang Minta Hukuman Lebih Ringan

Jadi Tulang Punggung Keluarga Hingga Salah Sasaran, Pembelaan Terdakwa Sate Beracun yang Minta Hukuman Lebih Ringan


Jadi Tulang Punggung Keluarga hingga Salah Sasaran, Pembelaan Terdakwa Sate Beracun yang Minta Hukuman Lebih Ringan
NA didampingi tim Kuasa Hukum di Kejaksaan Negeri Bantul, Rabu (25/8/2021) (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO, NA (25), terdakwa kasus sate beracun di Kabupaten Bantul, DIY, mengklaim dirinya sebagai tumpuan keluarga. Atas dasar itu ia memohon kepada majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Bantul menjatuhkan vonis lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Dalam sidang pembacaan nota pembelaan atau pledoi yang dipimpin Hakim Ketua Aminuddin di PN Bantul, terdakwa mengaku dirinya adalah tulang punggung keluarga. Ia merasa memiliki tanggung jawab melunasi utang-utang keluarga serta menyekolahkan adik-adiknya.

"Keluarga saya orang yang tidak mampu dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Dari sayalah keluarga saya bergantung, untuk biaya sekolah adik-adik saya. Saya mohon keringanan hukuman saya. Karena saya tidak pernah menikah, juga ingin berkeluarga. Saya masih punya cita-cita menbahagiakan keluarga saya," ujar NA.

Namun, alasan utama ia memohon dijatuhi vonis lebih ringan dari tuntutan JPU adalah karena menurutnya, kematian Naba Faiz sama sekali tidak ia rencanakan. Atau murni karena kelalaiannya.

Dia menegaskan Y. Tomi Astanto, anggota Satreskrim Polresta Yogyakarta yang menjadi sasaran sate beracunnya.

"Yang saya tuju, yang saya harapkan hanyalah Tomi, hanya Tomi. Sekali lagi saya saya sampaikan permohonan maaf yang saya tuju, tidak adik Naba. Yang tidak saya kenal, akan tetapi untuk Tomi, hanya untuk Tomi karena saya merasa sangat tertekan depresi, benar-benar tertekan oleh Saudara Tomi," paparnya.

Senada, Tim Kuasa Hukum Terdakwa meminta kliennya dihukum karena kealpaan atau kelalaiannya. Seperti diatur dalam Pasal 359 KUHP.

Penasihat hukum terdakwa juga meminta agar kliennya dihukum seringan-ringannya sesuai dengan Pasal 359 KUHP.

Berdasarkan fakta-fakta persidangan yang terungkap, menurut Tim Kuasa Hukum Terdakwa, perbuatan kliennya tak memenuhi unsur dakwaan primer yakni Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana yang dituntutkan JPU kepada NA.

Kuasa Hukum Terdakwa beranggapan bahwa kliennya masuk ke dalam kategori culpa atau kelalaian, bukan dolus eventualis. Karena kealpannya itulah perbuatan NA kemudian menewaskan Naba Faiz, bukan Y. Tomi Astanto, yang disebut jadi target NA sebenarnya.

Sidang pembacaan replik dan duplik sementara diagendakan masing-masing pada 25 dan 29 November 2021 mendatang.

Sebelumnya, pada sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Bantul, Senin (15/11/2021), Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut NA, terdakwa kasus sate sianida dengan hukuman 18 tahun penjara karena dianggap telah memenuhi unsur dakwaan primer Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Menurut tim jaksa, NA dinilai sudah melakukan pembunuhan berencana dengan membeli sianida secara online untuk meracuni Tomi Astanto. []