News

Jadi Terdakwa Kasus Jual-Beli HP Ilegal, Putra Siregar Titipkan Uang Setengah Miliar ke Negara


Jadi Terdakwa Kasus Jual-Beli HP Ilegal, Putra Siregar Titipkan Uang Setengah Miliar ke Negara
Fakta penangkapan Putra Siregar pemilik PS Store (Instagram/psstore)

AKURAT.CO, Terdakwa dugaan kasus jual beli telepon selular (ponsel) ilegal, Putra Siregar menitipkan uang ke Negara sebesar Rp500 Juta. Hal ini dilakukan sebagai jaminan jika memang ada kerugian negara dari praktek jual beli telepn selular yang dituding illegal.

Kuasa hukum Putra Siregar mengatakan kliennya dituding telah merugikan negara Rp26 Juta, namun kliennya juga telah menitipkan uang setengah miliar rupiah.

"Kerugiannya Rp26 juta. Klien kami sudah menitipkan sejumlah uang Rp500 juta. Jadi apabila nanti di persidangan ada fakta-fakta memang ada pelanggaran terhadap penjualan barang klien kami ini," katanya.

Sementara itu Putra Siregar mengaku mengalami tekanan psikologis akibat kasus tersebut. 

"Ini pembunuhan karakter. Sampai tukang bakso aja tahu. Ini sanksi sosialnya luar biasa sekali," kata Putra usai menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin.

Pemilik perusahaan PS Store itu diduga melanggar aturan kepabeanan sesuai pasal 103 huruf d UU No 17 tahun 2006 terkait jual beli barang yang diduga hasil penyelundupan.

Berdasarkan fakta persidangan agenda pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (PJU), negara telah rugi Rp26 juta akibat PPN sebesar 10 persen dan PPH 7,5 persen tidak dibayar oleh terdakwa.

Pengusaha asal Batam sekaligus YouTuber itu diserahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Timur beserta sejumlah barang bukti pada Kamis (23/7/2020).

Barang bukti yang berhasil dikumpulkan oleh pihak kejaksaan terdiri atas 190 ponsel bekas dan uang hasil penjualan senilai Rp61,3 juta.


Putra merasa mengalami gangguan psikologis dari seluruh tuduhan tersebut, bahkan kondisi serupa juga dialami istri. "Saya  punya dua anak yang masih bayi. Mental saya dan keluarga terganggu. Ini pembunuhan karakter," katanya.

Pembunuhan karakter yang dimaksud sebab perkara yang terjadi pada 2017, baru diproses pada saat ini. "Seolah-olah baru ditangkap, ini kejadian 2017 tapi di 'up' ke 2020," katanya.[]

Sumber: ANTARA