News

Jadi Target Framing Politik Identitas, Anies Disarankan Fokus Pelopori Politik Bermartabat

Framing politik identitas mereduksi demokrasi dan memecah belah anak bangsa


Jadi Target Framing Politik Identitas, Anies Disarankan Fokus Pelopori Politik Bermartabat
Pengamat Politik UI, Reza Haryadi (Screenshot video youtube)

AKURAT.CO  Kampanye hitam terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sedang gencar dilakukan. Kampanye dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dengan memobilisasi massa yang mengaku eks anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan eks Front Pembela Islam (FPI) serta eks napi terorisme mendeklarasikan dukungan terhadap Anies sebagai Capres 2024. 

Menanggapi fenomena itu, pengamat politik yang tergabung dalam Forum Doktor Ilmu Politik UI, Reza Hariyadi, menilai bahwa pola-pola stigmatisasi, framing hingga mobilisasi politik identitas biasanya menjadi modus dalam komodifikasi politik identitas. Targetnya untuk mendistorsi opini publik dan memberikan label negatif pada figur yang disasar.

"Ini tampak seperti komodifikasi politik identitas, siapa saja bisa disasar, dan Anies Baswedan sebagai figur capres bisa jadi target potensial. Mungkin motifnya untuk mencederai citranya di mata publik," ujar Reza dalam keterangannya, Minggu (26/6/2022). 

baca juga:

Mantan aktivis GMNI itu mensinyalir, aksi dukungan capres tak lepas dari mobilisasi politik dan tidak murni dan tulus. Aksi politik tersebut, kata dia, digelar secara terpola, sistematis dan sulit dipungkiri adanya desain politik tertentu di balik itu.

Dia mengatakan, aksi tersebut dapat memberi impresi politik yang bisa saja keliru kepada publik, seolah Anies dekat dengan kelompok yang dianggap radikal maupun intoleran.

"Ini bisa dimainkan oleh lawan politik untuk menyudutkan karena dicap Islam garis keras dan menjadi tantangan bagi Anies jika maju pilpres 2024", ujar Reza. 

Secara politik, stigma-stigma tersebut tidak menguntungkan Anies Baswedan sebagai salah satu calon presiden (Capres). Anies Baswedan yang belakangan makin populer setelah mendapat dukungan Partai NasDem dan termasuk figur dengan elektabilitas tinggi untuk diusung pada Pilpres 2024 jadi target. Adanya framing politik tersebut tentu akan membatasi ruang gerak Anies untuk meraih dukungan kelompok moderat dan nasionalis.

Framing politik identitas akan mereduksi demokrasi dan dapat memecah belah anak bangsa menjelang Pilpres 2024. Pengalaman menunjukkan polarisasi politik berbasis politik identitas kondusif bagi konflik sosial dan memerlukan waktu panjang untuk _recovery_ sosial. Namun, Reza yakin bahwa publik akan semakin kritis terhadap politik identitas dan akan melawan aktor-aktor yang menggerakkan politik identitas hanya untuk kepentingan kekuasaan semata.

"Anies perlu mempelopori politik bermartabat dan konsisten saja menjalankan program pro rakyat memecahkan masalah-masalah faktual di Jakarta yang sudah dilakukan selama menjadi Gubernur DKI," jelas Reza.

Untuk mengcounter stigmatisasi intoleran dan radikal, Anies dinilai sebenarnya punya modal besar. Anies lahir dan berpengalaman sebagai aktivis dari kampus yang dikenal sebagai corong moderasi di Indonesia. 

Pengalaman sebagai aktivis dan latar belakang sebagai akademisi dari kampus yang mengembangkan pemikiran inklusif dan moderat dari Cak Nur (Nurcholish Madjid). 

"Semestinya dapat menegaskan pandangan dan komitmen Anies terhadap pluralisme dan kebangsaan," ungkapnya.