News

Jadi Pertempuran Ukraina Paling Berdarah, Rusia Berhasil Kuasai Sievierodonetsk 

Pasukan Rusia akhirnya berhasil merebut kendali penuh atas kota Sievierodonetsk di Ukraina timur.


Jadi Pertempuran Ukraina Paling Berdarah, Rusia Berhasil Kuasai Sievierodonetsk 
Penduduk lokal Viacheslav berjalan di atas puing-puing bangunan tempat tinggal yang rusak akibat serangan militer, saat serangan Rusia di Ukraina berlanjut, di Sievierodonetsk ( Reuters)

AKURAT.CO  Pasukan Rusia akhirnya berhasil merebut kendali penuh atas kota Sievierodonetsk di Ukraina timur.

Kedua belah pihak yang membenarkan perkembangan itu pada Sabtu (25/6), menjadikannya sebagai kemunduran medan perang terbesar bagi Ukraina selama lebih dari sebulan. Baik Moskow dan Kyiv, kedua pasukannya telah bertempur habis-habisan di Sievierodonetsk, dengan perang di kota itu menjadi salah satu pertempuran paling berdarah di Ukraina. 

Ukraina menyebut mundurnya pasukan dari Sievierodonetsk sebagai 'penarikan taktis'. Menurut mereka, ini demi pertempuran berikutnya, di level yang lebih tinggi di Lysychansk di tepi seberang sungai Siverskyi Donets. Separatis pro-Rusia mengatakan bahwa pasukan Moskow sekarang telah menyerang Lysychansk. 

baca juga:

Sievierodonetsk yang kini berubah menjadi tanah kosong, pernah menjadi rumah bagi lebih dari 100 ribu orang. Jatuhnya kota itu menjadi kemenangan terbesar Rusia sejak merebut pelabuhan Mariupol bulan lalu. Momen ini juga telah mengubah medan perang di timur setelah berminggu-minggu Moskow, yang unggul dalam persenjataan, hanya menghasilkan keuntungan pelan.

Rusia pun sekarang akan berusaha makin menekan dan merebut lebih banyak tanah di tepi seberang. Sementara negara tetangganya yang diserang, berharap bahwa harga yang dibayar Moskow untuk merebut reruntuhan kota kecil akan membuat pasukannya rentan terhadap serangan balik.

Presiden Volodymyr Zelensky bersumpah dalam pidatonya bahwa Ukraina akan memenangkan kembali kota-kota yang hilang, termasuk Sievierodonetsk. Meski begitu, ia secara emosional juga  mengakui dampak perang yang luar biasa, dengan jumlah korban perang terus bermunculan.

"Kami tidak tahu berapa lama ini akan berlangsung, berapa banyak lagi pukulan, kerugian, dan upaya yang diperlukan sebelum kita melihat kemenangan di cakrawala," ungkap Zelensky.

Ikut memberikan pidato di televisi nasional, Wali Kota Sievierodonetsk Oleksandr Stryuk mengakui kemenangan Rusia atas Sievierodonetsk. Ia mengungkap bahwa sekarang, Kremlin telah memilih komandan untuk kota itu.

"Kota ini sekarang berada di bawah pendudukan penuh Rusia. Mereka mencoba membangun tatanan mereka sendiri, sejauh yang saya tahu mereka telah menunjuk semacam komandan," katanya.

Namun, Kepala Intelijen Militer Ukraina, Kyrylo Budanov, mengatakan kepada Reuters bahwa Ukraina sedang melakukan 'pengelompokan pasukan kembali', dengan menarik para tentaranya keluar dari Sievierodonetsk.

"Rusia menggunakan taktik ... yang digunakan di Mariupol: menghapus kota itu dari muka Bumi. Mengingat kondisinya, menahan pertahanan di reruntuhan dan lapangan terbuka menjadi hal yang tidak mungkin dipilih lagi. Jadi pasukan Ukraina berangkat ke tempat yang lebih tinggi untuk melanjutkan operasi pertahanan," kata Budanov.

Sementara itu, kementerian pertahanan Rusia mengumumkan bahwa operasi ofensifnya telah sukses, dan pasukan Moskow menguasai penuh Sievierodonetsk dan kota terdekat Borivske. Kantor berita Rusia Interfax mengutip perwakilan pejuang separatis pro-Rusia yang mengatakan pasukan Kremlin dan pro-Rusia telah memasuki Lysychansk di seberang sungai dan bertempur di daerah perkotaan di sana.

Jadi Pertempuran Ukraina Paling Berdarah, Rusia Berhasil Kuasai Sievierodonetsk  - Foto 1
 Reuters/Oleksandr Ratushniak

Sejauh ini, Rusia juga masih meluncurkan serangan rudal di Ukraina, dengan sasaran bangunan milik warga sipil. Pada hari Sabtu (25/6)  di kota Sarny, di barat Kyiv, sejumlah roket menghantam sebuah tempat pencucian dan sebuah bengkel mobil. Dalam insiden ini, sedikitnya tiga orang dikonfirmasi tewas dan lainnya mungkin telah terkubur dalam reruntuhan.

Rusia terus membantah menargetkan warga sipil. Namun, Kyiv dan Barat, bagaimanapun, berulangkali menegaskan bahwa pasukan Rusia telah melakukan kejahatan perang terhadap warga sipil. Sebagai upaya untuk menekan Rusia dan menghentikan perang dan dampaknya, AS dan sekutu terus berusaha memberi sanksi.

Lebih memperketat 'sekrupnya' untuk Rusia, Presiden AS Joe Biden dan para pemimpin G7 lainnya menghadiri pertemuan puncak di Jerman. Pertemuan itu, yang dimulai pada Minggu (26/6), akan berisi dialog soal kesepakatan larangan impor emas baru dari Rusia, kata seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Reuters.

Sementara para pemimpin berupaya membahas perang, seorang wanita tua bernama Elena mengungkap cerita mencekam selama pertempuran sengit di Lysychansk. Elena, sembari duduk di atas kursi rodanya, kini berada di kota Pokrovsk, di Donbas yang dikuasai Ukraina. Elena menjadi satu di antara lusinan pengungsi yang tiba dengan bus dari daerah garis depan di Lysychansk. 

"Sebuah pemandangan yang horor di Lysychansk, minggu lalu. Kemarin kami tidak tahan lagi. Saya sudah memberi tahu suami saya jika saya mati, tolong kuburkan saya di belakang rumah," ujarnya.[]