Ekonomi

Jadi Pembicara di Forum Ekonomi Qatar 2022, Elon Musk Singgung PHK dan Resesi AS

masih mendapatkan kendala dan masalah yang belum terselesaikan untuk menyepakati pembelian Twitternya termasuk untuk mengurangi jumlah pengguna spam


Jadi Pembicara di Forum Ekonomi Qatar 2022, Elon Musk Singgung PHK dan Resesi AS
Elon Musk dalam Qatar Economic Forum atau Forum Ekonomi Qatar yang diselenggarakan oleh Bloomberg. (Bloomberg.com)

AKURAT.CO, Elon Musk mengatakan ia masih mendapatkan kendala dan masalah yang belum terselesaikan untuk menyepakati pembelian Twitternya termasuk untuk mengurangi jumlah pengguna spam di sistem jejaring sosial itu.

Selain itu, Elon Musk juga mengungkapkan bila ada porsi utang yang belum bisa disepakati dengan Twitter.

"Kami masih menunggu resolusi tentang masalah itu, dan itu adalah masalah yang sangat signifikan," Elon Musk.

baca juga:

Selain itu, ia juga mengulangi keraguan atas klaim Twitter bahwa akun palsu atau spam mewakili kurang dari 5 persen dari pengguna aktif harian yang dapat dimonetisasi.

"Dan tentu saja, ada pertanyaan, apakah bagian utang putaran itu akan digabungkan? Lalu apakah pemegang saham akan memilih?," tanya Elon Musk dalam Forum Ekonomi Qatar yang diselenggarakan oleh Bloomberg, Selasa (21/6/2022).

Elon Musk juga memberikan komentarnya mengenai resesi yang saat ini ada di depan mata, Elon Musk mengungkapkan bila resesi tidak sedekat itu, dan lebih baik mengatakan 'memang' akan resesi ketimbang tidak.

"Yang pasti ini bukan soal kepastian, tetapi tampaknya ini lebih mungkin daripada tidak," ucap Elon Musk.

Pasalnya selama tiga bulan ke depan, Tesla mengharapkan untuk melihat pengurangan 10 persen dalam tenaga kerja yang digaji, yang mengarah ke sekitar 3,5 persen pengurangan total jumlah karyawan, kebijakan yang menurutnya digambarkan sebagai "kalian bukan material super".

Elon Musk menjelaskan kepada eksekutif Tesla dalam email pada 2 Juni yang dilihat oleh Reuters bahwa dia memiliki "perasaan yang sangat buruk" tentang ekonomi dan bahwa perusahaan perlu memotong staf sekitar 10 persen, serta "menghentikan semua perekrutan di seluruh dunia."

Sumber: Bloomberg