News

Jadi News Anchor Wanita Pertama, Begini Kisah Lee So-jeong Dobrak Budaya Patriarki Korsel


Jadi News Anchor Wanita Pertama, Begini Kisah Lee So-jeong Dobrak Budaya Patriarki Korsel
Lee So-jeong (TRT World)

AKURAT.CO, Di bawah lampu studio yang terang benderang, Lee So-jeong (43) tampak sibuk membaca skrip dari teleprompter. Wanita berambut cepak ini terlihat begitu serius melatih dialognya di depan siaran berita prime time (jam tayang utama) untuk televisi penyiaran publik Korea Selatan (Korsel), yakni Korean Broadcasting System (KBS).

Lima kali seminggu, wajah Lee menghiasi layar televisi di ruang-ruang keluarga di seluruh penjuru negeri. Dengan rupa berseri-seri, Lee pun terlihat begitu elegan memimpin program Berita 9.

Lee memang tengah menikmati kariernya sebagai seorang pembawa acara berita. Namun, gambaran kerja di penyiaran berita tersebut bukanlah sesuatu yang mudah diraih untuk perempuan Korea. Sebelum dinobatkan menjadi pembawa acara berita wanita pertama, Lee harus berupaya keras mendobrak sistem serta budaya kental patriarki di negara serta lingkungan kerjanya.

Dalam laporannya, Asia One pada Rabu (19/2) menuliskan bagaimana siaran berita televisi Korsel telah lama mengikuti format yang sama, yaitu seorang anchor laki-laki tua yang selalu tampak serius mengumumkan perkembangan utama pada hari itu.

Sementara, di samping anchor laki-laki tersebut, selalu saja ada 'pembantu' wanita dengan usia yang lebih muda. Rekan wanita ini biasanya hanya ditugaskan untuk menyampaikan hal-hal yang ringan dan tidak jauh lebih penting dari sang anchor pria. Budaya patriarki ini masih berlanjut dengan tingginya fenomena para rekan junior wanita tersebut kemudian menikah dengan chaebol (keluarga miliarder) daripada melanjutkan karier mereka.

Namun, Lee agaknya beruntung lantaran KBS tidak lagi melanggengkan format seperti di atas. Dengan terobosan ini, Lee bahkan mampu memiliki rekan pria yang usianya lebih muda. Menarik ingatan di masa silam, Lee lantas berujar bahwa pembaca berita wanita dulu hanyalah seperti 'bunga cantik'.

Jadi News Anchor Wanita Pertama, Begini Kisah Lee So-jeong Dobrak Budaya Patriarki Korsel - Foto 1
Gulf Today



Namun, menjadi seorang pelopor yang sukses mengubah gaya konservatif KBS, Lee mengaku merasakan tekanan yang begitu kuat untuk selalu menjadi contoh yang sempurna.

"Jika saya gagal dalam hal ini, itu bisa memalukan wartawan wanita lain secara keseluruhan. Rasa tanggung jawab dan beban ini (terasa) lebih besar daripada (menyiarkan) siaran langsung berita prime time. Saya harus melakukannya dengan baik sehingga para jurnalis wanita lain bisa memiliki lebih banyak peluang," ujar Lee.

Menurut Asia One, Korsel memang telah mengubah dirinya dari puing-puing Perang Korea menjadi ekonomi terbesar ke-12 di dunia dengan kekuatan industri dan perdagangan. Namun, nilai-nilai sosial tradisional masih sangat berpengaruh dalam lingkungan sosial warganya.

Bahkan, kesenjangan upah gender di negara ini disebut-sebut yang tertinggi di antara negara-negara maju. Laporan pun menunjukkan bagaimana perempuan Korsel hanya mampu meraup rata-rata 66 persen dari penghasilan laki-laki. Kesenjangan ini makin terlihat dengan fenomena para pekerja wanita mendapatkan lebih banyak ganjalan dalam promosi kerja hingga harus meninggalkan karier lantaran dituntut untuk mengasuh anak.

Tekanan-tekanan ini lantas menyebabkan banyak wanita Korsel yang menolak menjadi ibu sampai akhirnya tingkat kesuburan menjadi turun. Pada tahun 2018 lalu misalnya, tingkat kesuburan di negara ini dinyatakan turun hingga menjadi hanya 0,98. Angka ini tentu saja berada jauh di bawah standar untuk menjaga stabilitas populasi (2,1).

Jadi News Anchor Wanita Pertama, Begini Kisah Lee So-jeong Dobrak Budaya Patriarki Korsel - Foto 2
Asia One



Tren lengsernya para pekerja wanita ini menjadi hal yang begitu akrab dalam hidup Lee. Wanita yang memulai karier di televisi sejak 2003 ini bahkan mengaku pernah mengalami kesulitan besar menyusul kepulangannya dari cuti hamil selama setahun.

"Saya telah melihat banyak jurnalis wanita veteran yang kariernya terputus. Itu mengecewakan sekaligus menjengkelkan. Saya berharap wanita muda akan mencoba yang terbaik di tempat kerja, tetapi tidak menyalahkan diri sendiri untuk hal-hal di luar kendali mereka," ujar Lee.

Meski begitu, Lee tetap menyatakan keoptimisan dengan menyebutkan bahwa Korsel kini tengah memperbaiki stereotip gender.

"Menyampaikan berita utama dalam hal politik serta sosial telah lama dianggap sebagai pekerjaan laki-laki sembari menjaga perempuan tetap tersisihkan," kata Lee.

"Bahwa kita memiliki pembawa acara utama wanita ini adalah tanda bahwa pada akhirnya, Korsel tengah berada di persimpangan untuk memperbaiki stereotip gendernya," lanjut Lee.[]