Ekonomi

Jadi Koruptor, Mal Elit Garapan Djoko Tjandra Ini Terlacak Juga Pernah 'Bermasalah'


Jadi Koruptor, Mal Elit Garapan Djoko Tjandra Ini Terlacak Juga Pernah 'Bermasalah'
Terpidana kasus korupsi Bank Bali Djoko Tjandra saat menghadiri serah terima dari Bareskrim ke Kejaksaan Agung di lobby Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat malam (31/7/2020). Bareskrim Polri melimpahkan terpidana kasus cessie Bank Bali Djoko Soegianto Tjandra yang ditangkap di Malaysia ke Kejaksaan Agung. Namun sementara ini terpidana masih dititipkan di Rutan Selamba cabang Mabes Polri. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Tertangkapnya Djoko Soegiarto Tjandra atau Djoko Tjandra terkait kasus pengalihan hak tagih (cessie) antara PT Era Giat Prima (EGP) miliknya dengan Bank Bali pada Januari 1999, nampaknya membuat gurita bisnis ikut menjadi bahan perbincangan.

Mengingat Djoko Sugiarto Tjandra yang ditangkap di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis malam (30/7/2020) ini memang dikenal merupakan Pengusaha yang mengawali usahanya dengan membuka toko grosir bernama Toko Sama-Sama di ibukota provinsi tersebut, Jayapura hingga tercatat masuk ke usaha sektor Properti.

Seperti diketahui, pada 1983, usaha Djoko Tjandra memasuki sektor Properti dengan mengembangkan blok kantor. Proyek-proyek besar dipegangnya. Seperti proyek gedung Lippo Life, Kuningan Plaza dan BCA Plaza.

Selain itu ada juga pengembangan Mal Taman Anggrek, yang dulunya merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Asia Tenggara.

Seiring tertangkapnya Djoko Tjandra, nama Mal Taman Anggrek pun ikutan mencuat. Selain populer dengan keelitan dan kemegahannya, nyatanya Mal Taman Anggrek juga pernah menyita perhatian publik lantaran

Tangkapan layar salah satu pengguna Facebook yang mengunggah foto jual/beli Mal Taman Anggrek pada Kamis (16/7/2020).

Sebuah unggahan berupa tangkapan layar iklan penjualan gedung Mal Taman Anggrek yang berlokasi di Jalan Letjen S. Parman, Tanjung Duren, Tomang, Jakarta Barat, beredar di media sosial, Kamis (16/7/2020).

Adapun pada tangkapan layar itu terlihat iklan penjualan Mal Taman Anggrek dengan harga Rp17 triliun. Pengguna Facebook MasAryo Bahbah DamarAdi salah satu yang mengunggah tangkapan layar iklan penjualan Mal Taman Anggrek seharga Rp17 triliun.

Terlihat tangkapan layar iklan tersebut dimuat salah satu situs jual beli rumah.Dalam foto tangkapan layar itu, disebutkan bahwa pembeli akan mendapatkan sertifikat Hak Guna Bangunan.

Selain itu, dicantumkan pula kelengkapan yang akan dimiliki pembeli yakni garasi yang mampu menampung 4.000 kendaraan, luas tanah 55.000 meter persegi, dan luas bangunan 360.000 meter persegi.

Dengan tinggi bangunan sebanyak 8 lantai. Sementara di media sosial Twitter, unggahan yang sama juga beredar, salah satunya dibagikan akun @selphieusagi.

Ketika dikonfirmasi, Manajemen Mal Taman Anggrek membantah informasi yang dimuat iklan tersebut dan menyatakan berita itu hanyalah hoax bahwa Mal Taman Anggrek tidak dijual. 

Sekadar informasi, pada 5 November 1986 Djoko Tjandra beserta keluargamhamendirikan PT Mulia Industrindo, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur kaca dan keramik.

Tercatat sebanyak 41 perusahaan bernaung di bawah Grup Mulia dengan perkiraan total aset pada tahun 1998 sebesar Rp 11,5 triliun, dan sales turn-overpada tahun 1998 diperkirakan Rp395 miliar.

The International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) mengungkap tabir rahasia jejaring bisnis Djoko Tjandra lewat investigasi firma hukum Mossack Fonseca yang dikenal The Panama Papers.

Nama Djoko Tjandra dengan penulisan ‘Joko Soegiarto Tjandra’ tercatat setidaknya di dua perusahaan cangkang yang lazim untuk merahasiakan aktivitas bisnis.

Terdaftar sebagai pemilik perusahaan cangkang Shinc Holdings Limited di yurisdiksi British Virgin Islands, sejak 11 Mei 2001 hingga 2012. Kepemilikannya diteruskan dua anaknya, Jocelyne Soegiarto Tjandra dan Joanne Seogiarta Tjandranegara. Hingga kini perusahaan cangkang masih aktif.

Di perusahaan yang alamatnya sama dengan Mossack Fonseca di Panama ini, Djoko dan kedua putrinya dari hasil pernikahan dengan Anna Boentaran, mencatatkan alamat rumah di Jalan Simprung Golf Kaveling 89 RT 3/RW 8, Grogol Selatan, Jakarta Selatan. Alamat itu digunakan Djoko untuk membuat KTP Elektronik yang belakang menunjukkan kehadirannya di Indonesia.

The Panama Papers juga mencatat perusahaan yang pernah dipakai berbinis Djoko Tjandra untuk C P Holdings Limited sejak 3 November 1986. Djoko nonaktif dari entitas bisnis ini sejak 17 Oktober 2014 dan dicoret sejak 30 April 2020.

Ada empat nama terkoneksi di perusahaan ini, yang merupakan saudara kandung dan kolega bisnis Djoko Tjandra: Eka Tjandranegara, Gunawan Tjandra, Peter Jusmin Chandra, dan Prajogo Pangestu.

Menurut Tempo dalam edisi investigasi Jejak Korupsi Global dari Panama pada 5 April 2016, dua perusahaan Shinc Holdings Limited dan C P Holdings, masing-masing bermodal USD 50 ribu dengan harga USD 1 per saham.

Djoko punya 14 ribu saham dan Prajgo punya 22.500 saham di C P Holdings, lalu Djoko menjual 4.000 saham ke Prajogo pada 2006. Ada sekitar 27 berkas atas nama Joko Tjandra di The Panama Papers. Paling tua dibuat pada 1986. []

Denny Iswanto

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu